Sabtu, 04 Oktober 2014
Wasiat Rasulullah saw di Haji Wada 3
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَجَّةِ اْلوَدَاعِ: لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah saw didengarkan oleh para jamaah haji : “Jangan kalian berbalik setelah aku wafat kepada kekufuran dengan saling membunuh” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذِهِ الْمُنَاسَبَةِ الطَّيِّبَةِ الطَّاهِرَةِ…
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha menguasai kerajaan langit dan bumi, dan Maha Tunggal mengaturnya, memberikan kekuatan kepada hamba-Nya dengan kadar kehendak-Nya. Allah subhanahu wata’ala menguasai kekuatan dan tidak memberi kekuatan kepada hamba-hamba-Nya yang lain melebihi kekuatan yang diberikan kepada manusia. Para khalifah yang menjadi penguasa di muka bumi, menguasai segala sesuatu yang ada di bumi untuk tunduk kepadanya, sebagaimana firman-Nya:
أَنَّ الأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ
(الأنبياء: 105 )
” Bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh” ( QS. Al Anbiyaa: 105 )
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Merekalah yang menjadi rahasia penguasa yang hakiki di muka bumi, walaupun mereka tidak terlihat, namun Allah memberikan kemampuan dan kekuatan kepada mereka, tentunya bukan dengan kekuatan lain selain dengan doa, kekuatan dzikir, kekuatan takwa, kekuatan munajat untuk membentengi musibah, bukan hanya membentengi musibah, bahkan menyingkirkan dan menundukkan musibah langit, lautan, gunung, sebagaimana janji Allah subhanahu wata’ala, dan tanpa mereka berdoa pun Allah telah mengamankan bumi dengan keberadaan mereka, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari :
يَذْهَبُ الصَّالِحُونَ الأَوَّلُ فَاْلأَوَّلُ وَيَبْقَى حُفَالَةٌ كَحُفَالَةِ الشَّعِيرِ أَوِ التَّمْرِ لاَ يُبَالِيهِمُ اللَّهُ بَالَةً
(صحيح البخاري)
“Orang-orang shalih telah pergi (wafat), satu per satu, sampai tidak tersisa seorangpun kecuali manusia-manusia yang buruk, ibarat sampah gandum atau ampas kurma yang Allah tidak lagi mempedulikan mereka sedikitpun.” ( HR. Bukhari )
Para shalihin satu persatu wafat, sehingga di lingkungan suatu masyarakat tidak tersisa lagi orang shalih kecuali sampah-sampah yang tidak berarti di mata Allah sehingga Allah tidak peduli atas apa yang akan menimpa mereka setelah kewafatan para shalihin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan kepada kita bahwa dengan keberadaan para shalihin itu maka Allah peduli dengan keadaan penduduk bumi, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala :
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ
( الأنفال : 33 )
” Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu(Muhammad) berada di antara mereka” (QS. An Anfal:33)
Tiada akan datang siksa kepada mereka (yang jahat) selama Engkau (nabi Muhammad) berada diantara mereka. Tetangga nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang jahat telah aman dari siksa Allah karena masih ada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah melanjutkan firman-Nya:
وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
(الأنفال : 33 )
“Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun” ( QS. Anfal: 33)
Allah tidak akan menurunkan siksa kepada hamba-Nya selama mereka memohon pengampunan. Istighfar memohon pengampunan itu jangan dianggap remeh karena hal itu menampik musibah, dan sebaliknya perbuatan dosa itu seakan menciptakan musibah. Allah subhanahu wata’ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
(الشورى : 30 )
” Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu” (QS. As Syuura: 30 )
Semua musibah yang menimpa kalian itu adalah sebab dari perbuatan kalian sendiri, namun dibalik itu Allah telah lebih banyak memaafkan daripada menimpakan musibah atas balasan dari perbuatan jahat mereka. Sungguh beruntung orang-orang yang diberi musibah di dunia dan dibebaskan musibahnya di akhirah dan merugilah orang yang tidak diberi musibah di dunia namun ditimpa musibah di akhirah, dan sangat beruntung orang yang diselamatkan dari musibah di dunia dan diselamatkan pula dari musibah di akhirah, siapakah mereka?, mereka adalah yang mengikuti tuntunan rahmatan lil’alamin, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk itulah Muhammad Rasulullah diturunkan ke muka bumi kepadaku dan kalian, agar mendapatkan kebahagian di dunia dan di akhirah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diutus ke muka bumi adalah untuk membawa rahmat agar kita aman di dunia, segala seuatu apapun sudah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar segala musibah bisa terjauhkan dari kita. Diriwayatkan dalam sebuah riwayat selain Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah bersabda : “barangsiapa yang membaca (berdoa)”:
بِسمِ اللهِ الَّذِي لا يَضُرُّ مَعَ اسمِهِ شَيءٌ في الأرْضِ وَلا في السّماءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ
Siapa yang membaca doa itu 3 kali di pagi hari dan sore hari maka ia tidak akan ditimpa musibah di hari itu. Dan dalam riwayat Al Imam Ibn Daud disebutkan bahwa orang yang membaca doa itu tidak akan ditimpa musibah yang datang secara tiba-tiba di hari itu. Kok gampang banget bib?, ucapannya sangat mudah namun makna kalimatnya sangat agung yang harus difahami : “Dengan nama Allah, tidak akan membawa mudharat jika bersama nama-Nya apapun yang ada di langit dan di bumi dan Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui”, sirnalah segala bahaya di langit dan bumi terhalangi dan terbentengi dengan nama Allah subhanahu wata’ala. Siapa yang menciptakan musibah?, Allah lah yang menciptakan musibah, dan kenikmatan siapa yang menciptakan? Allah juga yang menciptakan, cuma bedanya bahwa musibah di muka bumi ini adalah penghapusan dosa bagi ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. ( Jadi kalau saya sudah baca doa tadi Bib tetapi masih mendapat musibah, berarti nabi bohong dong?!), tidak demikian, akan tetapi mungkin saja ada seribu musibah yang ada dihadapanmu telah Allah singkirkan dan hanya satu yang menimpamu. Kita tidak mengetahui misalnya tiba-tiba besok kita terkena stroke hingga wafat, puluhan tahun terbaring tidak bisa bergerak, namun Allah gantikan hanya dengan terkena flu misalnya. Tetapi semakin kuat kita menghadirkan makna dari ucapan (doa) itu, maka semakin banyak musibah yang tersingkirkan. Dan para shalihin dan para ‘arif billah tidak membaca dzikir itu hanya untuk dirinya sendiri tetapi untuk seluruh ummat. Mereka niatkan dzikir itu untuk gunung-gunung berapi, gempa bumi dan lainnya. Mereka dekatkan dekatkan ke dalam hatinya agar diturunkan cahaya Allah di barat dan timur untuk menenangkan semua musibah itu, maka jutaan musibah yang akan reda disebabkan niat para shalihin, jadi semakin para para shalihin maka akan semakin aman, sebaliknya semakin tidak ada para shalihin maka akan semakin banyak musibah, wal’iyadzubillah. Dan semakin banyak yang mengamalkan sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam maka akan semakin aman, paling tidak untuk dirinya sendiri. Namun doa para shalihin bukan lagi untuk diri mereka sendiri tetapi doa mereka untuk ummat. Hujjatul Islam wabarakatul anam Qutbulanfas Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Atthas Shahib Ar Ratib, beliau adalah seorang hujjatul islam, apakah hujjatul islam itu? Yaitu yang hafal lebih dari 30000 hadits beserta sanad dan matannya, dan derajat keshalihan dan kemakrifatannya pun memuncak di masanya, beliau adalah guru dari hujjatul islam Al Imam Abdullah bin Alwy Al Haddad, dimana beliau juga mempunyai murid seorang hujjatul islam juga yaitu Al Imam Ahmad bin Zein Al Habsyi, demikian mereka para ulama lautan-lautan ilmu dan lautan makrifah, Diriwayatkan bahwa Al Imam Umar bin Abdurrahman Al Atthas ini di saat shalat tahajjud beliau selalu mengulang-ulang doa :
اَللّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ
” Wahai Allah berilah kami (orang-orang muslim) hidayah, seperti orang yang telah Engkau beri hidayah “
Hingga adzan subuh, beliau terus mendoakan seluruh penduduk bumi agar mendapatkan hidayah, yang muslim agar Allah tambah hidayahnya dan yang non muslim agar diberi hidayah, hanya itu doanya sepanjang malam, maka pahala semua orang yang mendapat hidayah maka Al Imam Abdurrahman Al Atthas mendapatkan bagian dari itu, kenapa? karena Rasulullah telah bersabada dalam riwayat Shahih Muslim: “Ketika seseorang yang mendoakan saudara muslim lainnya maka berkatalah malaikat: amin walaka mitsluh (bagimu seperti doamu)”, jika mendoakan untuk seluruh muslimin, Maka hidayah sampai kepada mereka atau tidak namun malaikat berkata : “amin, semoga engkau mendapat hidayah sebanyak jumlah muslimin”, dan hal itu tidaklah sulit bagi Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ بِعَزِيزٍ
( إبراهيم:20 / فاطر:17 )
” Dan yang demikian itu sekali-kali tidak sulit bagi Allah” (QS.Ibrahim:20/ QS. Fathir:17 )
Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
( الملك:15 )
” Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS. Al Mulk: 15 )
Renungilah ayat ini, Allah telah menjadikan bumi ini dzaluul yang artinya tunduk atau patuh, seperti keledai atau hewan lainnya yang ketika ditunggangi dia hanya diam saja. Dan Allah telah menundukkan bumi untuk kita sehingga kita bisa berjalan diatasnya, jika Allah tidak tundukkan bumi ini untuk kita maka bumi ini akan gempa atau goyang dan lain sebagainya. Dan juga kita memakan rezeki yang ada di bumi ini kemudian kepada Allah kita akan kembali. Akhir dari ayat ini menjadi penentu perbuatan bumi terhadap kita, bahwa kita akan kembali kepada Allah subhanahu wata’ala, jika kita telah lupa bahwa kita akan kembali kepada Allah subhanahu wata’ala, maka berubahlah sifat gunung dan bumi, dia tidak lagi tunduk kepada kita, bahkan kita yang akan diinjak-injak oleh bumi, disiksa oleh gunung, debu, banjir dan bencana alam yang lainnya, kenapa ? karena kita tidak merenungkan kalimat terakhir dalam ayat ini : وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ ( Dan hanya kepada-Nya lah kalian kembali). Saya perjelas, namun jangan tersinggung dulu karena majelis ini disiarkan di streaming seluruh dunia, namun jamaah yang disini insyaallah tidak akan tersinggung, cuma yang menyaksikan di luar saya mohon jangan tersinggung dulu. Bahwa dari 21 gunung yang telah dikabarkan aktif itu hampir berada di wilayah-wilayah yang penduduknya bukan orang shalih (maaf) bahkan kebanyakan dari mereka menyembah selain Allah seperti ratu Kidul dan yang lainnya, dan bukanlah termasuk ummat nabi Muhammad yang baik (maaf), maka hal ini merupakan salah satu teguran, tapi (jangan marah dulu) hal ini juga kesalahan para da’i dan ulama’ juga, para dai tidak sampai kesana, namun jangan saling menyalahkan diantara para da’i atau menyalahkan para da’i yang di Jakarta. Sebaiknya kita berdoa saja semoga Allah memperbanyak para shalihin , amin. Jadi gunung-gunung berapi itu sebenarnya berdakwah mengambil posisi para da’i karena para da’i yang disana tidak mau bergerak, maka gunung-gunung itu berkhidmah kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika gunung-gunung berbuat demikian maka Masjid dan mushalla menjadi ramai, banyak yang berdoa kepada Allah, banyak yang menangis dan bermunajat memanggil nama Allah, banyak yang mengucapkan kalimah Allahu Akbar, Laailaaha illallah yang sebelumnya tidak mereka perbuat. Hal ini menunjukkan seakan-akan gunung-gunung itu berbicara kepada kita : ” Mampukah kalian datang kepada kami untuk berdakwah, jika kalian tidak mampu maka jangan salahkan kami jika kami ingin membantu sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam”. Dan walaupun kita mampu mencapai kesana, cuma kita agak sedikit tersinggung, kenapa? gunung merapinya disana mengapa debunya dikirim kesini, bisa-bisa batuk tersebar di Jakarta dalam 2 tau 3 hari ini terkena debu gunung semeru, jika engkau mengirim debu maka kami akan mengirim cahaya Allah dalam doa dan dzikir kesana, kita yang disini mengirim cahaya doa kepada Allah kesana, mungkin ada yang merasa aneh dengan ucapan saya, tetapi ingat firman Allah subhanahu wata’ala:
فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا
( الأعراف: 143 )
” Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh” (QS. Al A’raf: 143 )
Ketika Allah menampakkan cahaya kewibawaan-Nya maka membuat gunung hancur lebur. Kita brdzikir dengan nama Allah itu mneyingkap rahasia cahaya kewibawaan Allah, semoga di saat kita berdzikir Allah tunjukkan cahaya kewibawaan-Nya kepada semua gunung yang aktif agar mereda laharnya dengan cahaya kesejukan Allah. Lalu bagaimana dengan mereka yang belum beriman?, semoga Allah jadikan bagi mereka ledakan hidayah bukan ledakan gunung-gunung merapi, ledakan orang-orang yang taat dan banyak bersujud dan beriman kepada Allah subhanahu wata’ala, amin allahumma amin. Kita sedikit merasa risau juga jika dengan keadaan yang seperti ini nanti justru akan semakin banyak non muslim yang berdakwah kesana, dan semakin banyak pula orang-orang yang meninggalkan ummat sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya punya rencana untuk berangkat kesana bersama Habib Hud dan para da’i yang lainnya untuk mendatangi gunung-gunung, namun bagaimana dengan Jakarta yang merupakan ibukota negara muslimin terbesar dan paling banyak maksiat di tempat ini, jika Jakarta ditinggal maka khawatir Jakarta yang akan terkena musibah seperti banjir dan lain sebagainya. Jakarta juga perlu majelis dzikir, majelis ta’lim dan lainnya, ya sudah kita doakan saja mereka yang disana, dan jika ada diantara saudara-saudara kita yang peduli ingin berangkat kesana silahkan, Namun kita harus membina wilayah kita dahulu sebelum wilayah yang lainnya. Wilayah kita ini insyaallah akan kedatangan tamu agung Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, dan akan dilaksanakan acara besar pada malam Selasa tanggal 27 Desember 2010 di Monas, doa dan dzikir yang insyaallah akan mengamankan Jakarta dan seluruh bangsa kita, kita berharap yang hadir lebih dari 5 juta muslimin muslimat, acara selanjutnya pada tanggal 31 Desember 2010 insyaallah di Gelora Bung Karno, mudah-mudahan acara ini sukses. Seperti yang kita ketahui di malam tahun baru penuh dengan maksiat namun kita penuhi malam tahun baru dengan doa dan munajat, semoga Jakarta ini Allah percepat untuk menjadi Kota pecinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang kemudian berlanjut ke wilayah-wilayah lainnya.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kita mengingat hari ini adalah tanggal 1 Dzulhijjah, tanggal 1 Dzulhijjah ini mengingatkan kita kepada firman Allah subhanahu wata’ala tentang 10 malam luhur mulai tanggal 1 hingga tanggal 10 Dzulhijjah :
وَالْفَجْرِ ، وَلَيَالٍ عَشْرٍ ، وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ ، وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ
(الفجر: 1-4 )
” Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil, dan malam bila berlalu” (QS. Al Fajr: 1-4 )
Sebagian ulama’ menjelaskan bahwa waktu Fajar adalah fajar di hari idul adha, dan 10 malam itu adalah malam 1 Dzulhijjah sampai malam 10 Dzulhijjah. Dan sebagian mengatakan 10 malam terakhir bulan Ramadhan, namun pendapat yang lebih kuat adalah 10 malam Dzulhijjah karena di dalam ayat itu disebutkan “Demi yang genap dan yang ganjil”, namun di sepuluh malam terakhir ramadhan adalah malam-malam yang ganjil. Disunnahkan di hari-hari ini berpuasa, mulai dari tanggal 1 Dzulhijjah hingga tanggal 9 Dzulhijjah bagi yang tidak menunaikan ibadah haji atau umrah. Yang paling utama adalah puasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, hari Arafah. Dan juga disunnnahkan untuk berkurban, dan sebelum kita berkurban Rasulullah telah lebih dahulu berkurban untuk kita, hal ini menjadi dalil dibolehkannya mengirimkan amal karena Rasulullah telah mengirimkan amal untuk semua ummatnya sebelum ummatnya lahir. Sebagaimana riwayat Shahih Muslim, saat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menyembelih kurban beliau berdoa:
اَللّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ
” Ya Allah terimalah (qurban) ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari ummat Muhammad”
Maka seluruh ummat nabi Muhammad shallallhu ‘alaihi wasallam telah mendapatkan bagian dari pahala kurban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Al Imam Abu Abbas Muhammad bin Ishaq Atssaqafi, salah seorang murid Al Imam Bukhari yang menyimpan lebih dari 5000 fatwa dari anad Imam Malik, bahwa ia berkurban sebanyak 12 ribu ekor kambing dan pahalanya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, adakah diantara kita yang bisa membeli 12000 ekor kambing?!, lalu dia menghatamkan 12000 kali khatam Al qur’an dan pahalanya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Kurban itu hukumnya sunnah muakkadah bukan wajib, demikian pula aqiqah hukumnya sunnah muakkadah, namun ada yang hukumnya fardhu (wajib) yaitu membantu dakwah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentunya kalian faham makna ucapan saya mengarah kemana. Membantu dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hukumnya adalah fardhu ‘ain (wajib) bagi setiap ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka yang tidak peduli dengan dakwah dan perjuangan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dikhawatirkan akan wafat dalam keadaan su’ul khatimah.
Karena jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ada di saat ini, maka beliau akan berjuang untuk memperluas dakwah beliau. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, maka cita-citanya terwariskan kepada ummat beliau, aku dan kalian. Mereka yang menerima cita-cita itulah yang benar-benar berbakti kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang Allah sebutkan dalam firman-Nya:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
(التوبة: 100)
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (QS. At Taubah: 100)
Semoga Allah jadikan kita diantara para pengikut muhajirin dan anshar, apa yang mereka dapatkan?, hal yang paling berharga dari segala anugerah Allah yaitu Allah ridha kepada mereka dan mereka pun juga ridha kepada Allah. Tidak ada anugerah yang lebih berharga dari hal ini karena terdapat dalam riwayat Shahih Al Bukhari, bahwa ketika manusia masuk kedalam surga kemudian Allah memanggil mereka dan berkata: “maukah kalian Aku beri anugerah yang lebih dari semua ini?”, maka mereka berkata: “wahai Allah, anugerah apa lagi yang lebih dari semua ini?”, nikmat apa lagi, surga telah Allah berikan kepada kita meskipun kita telah banyak berbuat dosa namun Allah ampuni, maka Allah subhanahu wata’ala menjawab:
أُحِلَّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِيْ، فَلاَ أَسْخُطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أبدًا
“Kuhalalkan ridha-Ku untuk kalian, dan Aku tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya”
Maka jelaslah bahwa keridhaan Allah merupakan anugerah yang terbesar, yang ditawarkan kepada kita jika kita mau membantu perjuangan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana jika kita ingin bersama muhajirin dan anshar. Saudara saudariku, ibukota negara muslimin terbesar di dunia ini saat ini sedang mulai merangkak untuk bangkit, maka bantu dan dukunglah perjuangan dakwah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam di pusat kekuatan basis Islam terbesar di dunia yaitu Indonesia ini. Jika di wilayah Indonesia ini bangkit, maka Allah akan percepat kebangkitan di tempat-tempat yang lain, maka kita akan terlibat dalam kebangkitan Islam di seluruh dunia. Kita ketahui belum pernah ada maulid di seluruh dunia yang di hadiri oleh jutaan orang, namun hal itu kita temukan di Jakarta, Alhamdulillah. Acara-acara dzikir akbar doa yang begitu dahsyatnya, seperti acara Nisfu Sya’ban, Isra’ Mi’raj, haul ahlu Badr dan lainnya yang dihadiri oleh jutaan kaum muslimin muslimat, sampai tidak ada tempat yang mencukupi kecuali Monas, dan nanti akan diusahakan di gelora Bung Karno karena acara bertepatan dengan malam tahun baru. Dan berhati-hatilah dengan jangan sampai meniup terompet di malam tahun baru, terompet itu mainan dan boleh anak-anak kita memainkannya, namun jangan di malam tahun baru, karena meniup terompet di malam tahun baru itu seakan-akan menampakkan kemenangan dakwah non muslim di bibir kita atau di bibir anak-anak kita, mereka menang dan kita kalah. Terompet itu adalah terompet kemenangan mereka, namun kalau ditiup selain malam tahun baru itu lain lagi, itu dianggap mainan anak-anak. Maka yang mempunyai niat utuk jual terompet di malam tahun baru gagalkan niatnya, lebih baik niat jual siomay saja di acara malam tahun baru. Terus orang yang jual terompet bib gimana hukumnya?, jangan kita ganggu kasihan, kalau kita mau jika ada orang yang jual terompet maka kita borong semuanya kita bayar kemudian kita bakar, daripada dibeli orang lain dan di malam tahun baru akan ramai dengan bunyi terompet yang mengumandangkan kemenangan non muslim, maka lebih baik kita borong kemudian kita bakar.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Haji Wada’ yang terjadi pada tahun ke 10 H, setelah perjanjian Hudaibiyah tahun ke 6 H, seperti yang dijelaskan malam selasa lalu, bahwa Rasulullah shallallhu ‘alaihi wasallam keluar menuju Makkah untuk melakukan Ihram namun dihalangi oleh kuffar quraiys. Dalam riwayat Shahih Al Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah melakukan umrah sebanyak 3 kali, dan yang ketiga adalah di saat haji wada’, inilah haji dan umrah nabi yang terakhir sehingga disebut hajjatul wada’. Al wada’ artinya perpisahan. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pada tahun ke 10 H keluar bersama kaum muslimin untuk melakukan hajjatul wada’, di saat itu datang sayyidina Ali bin Abi Thalib kw dan sayyidina Khalid bin Walid RA dari Yaman yang ketika itu mereka diperintahkan untuk berdakwah disana oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka sepulangnya mereka langsung menyusul ke Makkah Al Mukarramah dan bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah Al Munawwarah. Di dalam salah satu khutbah beliau adalah hadits yang kita baca tadi , kaum muslimin mendengarkan khutbah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam salah satu riwayat dihadiri oleh 60 ribu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dalam riwayat lainnya kurang dari jumlah itu, tapi yang mengatakan jumlah sahabat nabi yang hadir di khutbah itu maksimal 60 ribu itu adalah menukil dari kejadian haji wada’. Dan ketika itu mukjizat nabi terlihat, dimana nabi berbicara di atas ontanya, dan suara beliau terdengar sama antara orang yang terdepan dan yang paling belakang, padahal di saat itu tidak ada microphone dan yang hadir 60 ribu, majelis malam ini yang hadir sekitar 50 ribu maka lebih banyak dari jumlah malam hari ini. Diantara khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa khutbah beliau di Mina, dan dalam riwayat lain di Arafah. Khutbah beliau panjang dan diantaranya adalah :
لَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ
” Janganlah kalian kembali kepada kekufuran setelah aku wafat, dengan saling membunuh satu sama lain “
Ada beberapa penafsiran tentang hadits ini, diantaranya ada pendapat yang mengatakan bahwa orang yang saling membunuh hukumnya kufur dengan dalil hadits tadi. Namun pendapat yang lebih kuat bahwa membunuh tidak sampai kepada kekufuran akan tetapi termasuk dosa yang sangat besar. Namun makna yang jelas tentang hadits ini adalah bahwa Rasulullah memberikan wasiat kepada kita untuk bersatu dan tidak berpecah belah, berbeda pendapat diperbolehkan namun jangan sampai saling membunuh atau memerangi satu sama lain, itulah yang dimaksud dalam khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan di dalam salah satu khutbah beliau yang membuat jerit tangis para sahabat adalah :
لَعَلِّي لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِيْ هَذَا وَمِنْ مَقَامِيْ هَذَا
“Sepertinya aku tidak bertemu kalian lagi setelah tahun ini dan di tempat ini”
Salah satu khutbah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam di saat haji wada’, diriwayatkan dalam salah satu sunan imam Tirmidzi, dan Sunan Baihaqi Al Kubraa, dan dalam Tarikh Ibn Katsir, beliau berkata di hadapan para sahabat : “wahai para sahabatku, tampaknya aku tidak akan berjumpa dengan kalian setelah tahun ini dan di tempat ini”, maksudnya tidak akan ada lagi ibadah haji beliau setelah hari itu. Maka sepulang dari haji wada’, kondisi Rasulullah mulai drop, hal itu terjadi di tahun 10 H, lalu di bulan Rabi’ul Awal wafatlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, 3 bulan setelah khutbah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membangkitkan semangat muslimin di barat dan timur untuk meneruskan cita-citanya, Allah subahanahu wata’ala melihat jiwa hamba-hamba-Nya yang mau meneruskan cita-cita nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, semoga aku dan kalian termasuk penerus cita-cita nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat khutbah beliau di Arafah atau di Mina, ketika beliau mengucapkan: “Sepertinya aku tidak akan lagi berjumpa dengan kalian setelah tahun ini dan di tempat ini”, dimana hal itu terjadi pada 14 abad yang silam, betapa gembiranya hati sayydina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam setelah 14 abad beliau wafat, ada ummatnya yang berkumpul dan berdzikir, membaca shalawat, dan meneruskan dakwah beliau. Para kaum Anshar rela mengorbankan nyawanya untuk menggembirakan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan di dalam Sirah ibn Hisyam bahwa kaumu Anshar kemanpun Rasulullah pergi mereka selalu ikut, beliau shallallahu ‘alaihi wasalla naik ke atas gunung maka mereka ikut, beliau masuk ke dasar lautan maka mereka pun akan ikut, dan tidak satupun dari mereka (Anshar) yang akan tersisa, barangkali dengan hal itu mereka bisa membuat gembira Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, itulah kaum Anshar. Bagaimana balasan Nabi Muhammad terhadap kaum Anshar?, di saat Fath Makkah maka nabi pulang ke Makkah, dan kaum Anshar bersedih karena menganggap nabi telah pulang ke kampung halamannya, dan mereka (kaum Anshar) pulang ke Madinah, mereka merasa kehilangan nabi Muhammad yang telah 10 tahun hidup bersama mereka, maka rasulullah bersabda :
كَلاَّ إِنِّي عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ هَاجَرْتُ إِلَى اللهِ وَإِلَيْكُمْ اَلْمَحْيَا مَحْيَاكُمْ وَالْمَمَاتُ مَمَاتُكُمْ
” Sungguh tidak, aku ini hamba Allah dan RasulNya, aku hijrah kepada Allah dan kepada kalian hidupku bersama kalian, dan wafatku bersama kalian “
Rasulullah berkata, jika kaum Anshar naik ke suatu bukit maka Rasulullah akan bersama mereka, dan jika bukan karena ada takdir hijrah kata rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh aku adalah termasuk dalam kelompok Anshar, kenapa? karena Rasulullah tidak mau berpisah dengan orang yang mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Kaum Anshar mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, hidup bersama mereka hingga wafat bersama mereka dan dimakamkan di Madinah Al Munawwarah. Semoga Jakarta ini menjadi kota orang yang banyak mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga wilayah-wilayah yang lainnya, amin allahumma amin. Diriwayatkan disaat qurban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membawa 100 ekor onta, 63 ekor disembelih oleh Rasulullah dan sisanya diserahkan kepada sayyidina Ali bin Abi Thalib Kw untuk beliau melanjutkan penyembelihannya. 63 ekor yang disembelih oleh Rasulullah, hal itu menandakan usia beliau 63 tahun. Hanya saja ada satu hal yang aneh, sebagaimana onta dan hewan sembelihan yang lainnya tidak boleh melihat darah, oleh karena itu ketika penyembelihan pasti ditutupi, karena jika melihat darah maka hewan itu akan mengamuk, namun ketika Rasulullah memberi minum onta-onta itu kemudian mengumpulkannya untuk disembelih, maka sahabat berkata : “wahai Rasulullah, kita tutupi menggunakan tabir supaya darah tidak terlihat oleh onta yang lain”, maka Rasulullah berkata: “jangan ditutupi biarkan onta yang lain melihatnya”, sahabat berkata : “wahai Rasulullah mereka akan mengamuk jika melihat darah”, namun rasulullah kemudian memegang pedang kecilnya untuk menyembelih, maka onta-onta itupun berdesakan untuk disembelih oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak mengamuk dan lari bahkan mereka berdesakan menjulurkan lehernya untuk lebih dahulu disembelih oleh tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Jika onta saja seperti itu, jangan mau kalah sama onta maka bangkitlah untuk membantu dakwah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kita berdzikir bersama, dan mengirimkan keagungan rahasia dzikir khususnya di pulau Jawa dan seluruh wilayah di Indonesia, untuk gunung-gunung yang sedang aktif agar ditenangkan oleh Allah dengan keagungan dzikir. Wahai Allah, mereka penuh dosa namun mereka adalah hamba-hamba-Mu yang tidak mengetahui, dan kami ingat doa nabi kami :
اَللّهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui”
Wahai Allah jika mereka tau keagungan-Mu maka mereka tidak akan menyembah selain-Mu, doa ini dipakai sebagai benteng untuk mendoakan keselamatan mereka, Ketika perang Rasulullah terkena panah baja di tulang rahangnya sehingga mengalirlah darah dari rahang beliau, Rasulullah menutupi darah yang keluar dengan rida’nya agar tidak jatuh ke tanah, maka para sahabat berkata: “wahai Rasulullah biarkan darahnya mengalir, dan kami akan mencabut panah itu dari rahangmu”, Rasulullah tidak mempedulikan sakit dan pedihnya panah yang menembus tulang rahang beliau , beliau menutupi darah dengan surbannya agar tidak jatuh ke tanah dan berkata : “aku tidak ingin jika ada darahku jatuh ke tanah, karena jika ada setetes saja darahku yang terjatuh ke tanah, maka Allah akan turunkan bala’ untuk orang yang memerangiku”, inilah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Inilah dalil kita untuk mendoakan mereka, yang walaupun barangkali mereka telah banyak berbuat dosa, wahai Rabbi…kami hanya memanut sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka kita bermunajat untuk bumi Jakarta dan sekitarnya, Bogor, Tangerang, Bekasi dan wilayah-wilayah lainnya. Ya Allah, tenangkan gunung-gunung berapi yang kesemuanya takut dengan kewibawaan nama-Mu, kami kirimkan kepada mereka rasahia keluhuran kewibawaan nama-Mu yang jauh lebih berwibawa daripada alam semesta beserta seisinya, dan kami berdoa semoga Engkau ampuni dosa-dosa kami, sebesar apapun dosa-dosa kami, sungguh bagaikan debu dibanding dengan rahasia samudera pengampunan-Mu, dan sebesar apapun hajat kami tidalah berarti dibanding dengan samudera kedermawanan-Mu, Ya Rabbi…hajat-hajat kami yang kami ketahui dan yang tidak kami ketahui, hajat kami di saat ini dan di waktu yang akan datang, berilah lebih dari yang kami minta, tambahkan anugerah yang besar kepada kami zhair dan bathin, kuatkan iman kami untuk selalu mampu taat kepada-Mu, sungguh kami sangat lemah dalam menjalankan perintah-Mu dan kami pun lemah dalam menjauhi larangan-Mu, maka berilah kami kekuatan. Kepada siapa kami memohon jika bukan kepada-Mu wahai Yang Maha mendengar dan Maha melihat, Allah Maha melihat semua yang hadir di tempat ini, yang menyaksikan acara ini di streaming website Majelis Rasulullah di seluruh penjuru dunia. Rabbi, Engkau melihat wajah-wajah kami dan perasaan kami semua, pastikan kami wafat dalam husnul khatimah, pastikan kami Engkau limpahi rahmat-Mu di dunia dan akhirah, pastikan kami Engkau anugerahi mahabbah-Mu. Dan semoga diantara kami yang terjebak hutang, atau dalam kesedihan, segera selesaikan dan gantikan dengan ketenangan dan kebahagiaan, tunjukkan rahasia kewibawaan nama-Mu wahai Rabbi, ya rahman ya rahim ya dzal jalali wal ikram…
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
Hadirin hadirat, kita teruskan dengan pembacaan qasidah Ya Arhamarraahimiin oleh Al Habib Ibrahim Aidid, kemudian doa penutup dan kalimah talqin oleh guru kita Al Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Atthas, yatafaddhal masykura..
WASIAT RASULULLAH SAW DI HAJI WADA’ 2
WASIAT RASULULLAH SAW DI HAJI WADA’
Sesungguhnya Haji Wada’ adalah Haji pertama dan sekaligus terakhir bagi RasulullahSAW. Dan pada saat Haji wada’ ini pula RasulullahSAW
menyampaikan khutbah/wasiat di hadapan sekitar 124.000 kaum muslimin
yang sedang berhaji, dan khutbah Rasulullah SAW dilakukan di padang
Arafah (tepatnya dibawah kaki Jabal Rahmah). Wasiat Rasul SAW
ini sangat penting sekali bagi umat Islam hingga akhir zaman karena
berisi prinsip-prinsip penting dan mendasar dalam manjalani kehidupan
yang fana ini agar kehidupan kita berjalan sesuai dengan ketentuan ALLAH dan
Rasul-Nya dan dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan kewajiban
bagi kaum muslimin untuk memperhatikan wasiat Rasulullah SAW ini.
Adapun poin-poin penting wasiat Rasulullah SAWtersebut adalah :
-
Sesungguhnya harta, darah dan kehormatan seorang muslim wajib dijaga karena semuanya adalah suatu Hurmah (suci&terhormat). Harta mereka tidak boleh dirampas / diambil dengan cara yang batil (Misalnya dicuri/dirampas), darah mereka tidak boleh (haram) ditumpahkan kecuali dengan alasan yang Haq/benar (Misalnya orang membunuh dengan di Qishos, pezina yang sudah bersuami/beristri dengan di Rajam dan orang yang Murtad/keluar dari agama Islam dengan dibunuh). Dan kehormatan muslim wajib dijaga tidak boleh (Haram) dinodai (misalnya dengan Fitnah, Ghibah, mengadu domba/namimah Dsb). Rasulullah r bersabda :
فَإنَّ
دِمَاءكُمْ وَأمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ ،
كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا في بَلَدِكُمْ هَذَا في شَهْرِكُمْ هَذَا.
Sesungguhnya
darah/nyawa, harta dan kehormatan kalian adalah haram/suci, sebagaimana
sucinya hari ini (Arafah) di negeri kalian ini (tanah haram) di bulan
kalian ini
-
Wasiat Rasulullah SAW agar kaum muslimin berpegang teguh kepada keduanya yakni Al-Qur’an & Sunnah. Dan kewajiban umat Islam berpagang teguh kepada Ajaran Islam dengan meyakini dan mengamalkan semua isi ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits (sunnah nabi). Dan menjadikan keduanya sebagai sumber/landasan hidup bermasyarakat dan bernegara. Dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah sungguh kita tidak akan tersesat selama-lamanya. Rasulullah SAW bersabda :
وَقَدْ تَرَكْت فِيكُمْ مَا إنْ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ فَلَنْ تَضِلّوا أَبَدًا ، أَمْرًا بَيّنًا ، كِتَابَ اللّهِ وَسُنّةَ نَبِيّهِ
Sungguh
telah aku tinggalkan bagi kalian yang jika kalian berpegang teguh
dengannya kalian tidak akan tersesat selamanya, perkara yang yang jelas
itu adalah Kitabullah & Sunnah nabi
-
Tidak ada keutamaan antara orang arab dengan ‘Ajam (selain arab) kecuali dengan Taqwa (Yaitu sikap hidup selalu tunduk dan terikat dengan ketentuan / syariat ALLAH , dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, serta sangat hati-hati/takut akan adzab ALLAH jika berpaling dari ketentuan dan syari’at-Nya). Rasulullah SAW bersabda :
لاَ فَضْلَ بَيْنَ الْعَرَبِ وَ اْلأَعْجَمِ إِلاَّ بِاالتَّقْوَى
Tidak ada keutamaan antara orang arab dengan “ajam (selain arab) melainkan dengan ketakwaannya
-
Sesungguhnya sesama mu’min adalah Bersaudara, maka harus saling berbuat baik dan tidak boleh saling menyakiti, mendzolimi, mencaci dan haram menumpahkan darahnya. Rasulullah SAW bersabda :
أَيّهَا
النّاسُ اسْمَعُوا قَوْلِي وَاعْقِلُوهُ تَعَلّمُنّ أَنّ كُلّ مُسْلِمٍ
أَخٌ لِلْمُسْلِمِ وَأَنّ الْمُسْلِمِينَ إخْوَةٌ فَلاَ يَحِلّ لِامْرِئٍ
مِنْ
أَخِيهِ إلاَّ مَا أَعْطَاهُ عَنْ طِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ فَلاَ تَظْلِمُنّ أَنْفُسَكُمْ
Wahai
manusia, dengarkan ucapanku dan pahamilah, ketahuilah bahwa
sesungguhnya setiap muslim adalah saudara muslim yang lain, dan
sesungguhnya kaum muslimin adalah bersaudara. Seorang mukmin
diharamkan mengambil harta yang lain tanpa izin & keridloan dari
pemiliknya, dan janganlah sekali-kali berlaku dzalim.
Dan
sesungguhnya satu-satunya Ikatan yang benar dan kokoh yang bisa
mengikat umat Islam sebagai umat yang bersaudara adalah Ikatan Akidah
Islam dan Syari’atnya karena darinya termaktub persaudaraan yang agung,
bahwa setiap muslim adalah saudara muslim yang lain.
-
Hendaknya suami istri harus saling menunaikan hak & kewajiban masing-masing dan membentuk keluarganya menjadi keluarga yang Islami, Sakinah, Mawaddah Wa Rohmah sesuai dengan tuntunan Agama Islam. Rasulullah SAW bersabda :
أَيّهَا النّاس ، فَإِنَّ لَكُمْ عَلَى نِسَائِكُمْ حَقًّا ، وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ حَقًّا
Wahai manusia, sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri kalian, dan merekapun memiliki hak atas kalian.
-
Riba adalah suatu yang haram yang memiliki dampak buruk karena memupukkedzaliman dan menyebabkan kehancuran ekonomi umat. Karena itu Riba dan segala bentuknya harus dihapuskan. Rasulullah SAW bersabda :
وَإِنّ كُلَّ رِبًا مَوْضُوعٌ وَلَكِنْ لَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ . قَضَى اللّهُ أَنّهُ لاَ رِبَا
-
Sesungguhnya Paganisme (penyembahan berhala) harus dihapuskan di dunia Islam karena menyekutukan ALLAH dan termasuk dosa besar. Dan sungguh apabila yang Haq (Islam) itu mucul dipermukaan maka kebatilan (Syirik & Kufur) akan tenggelam bahkan binasa. Sehingga umat Islam harus memunculkan agama Islam ini dipermukaan dunia ini dengan mengamalkan seluruh ajaran Islam baik yang terkait dengan Akidah (landasan keyakinan) maupun Syari’at (Konsep aturan kehidupan).
-
Hendaknya orang yang mendegar (mengetahui) wasiat Rasul SAW ini menyampaikan kepada yang tidak mendengar (tidak mengetahui) wasiat ini. Rasulullah r bersabda :
أَلاَ لَيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الغَائِبَ ، فَلَعَلَّ بَعْضَ مَنْ يَبْلُغُهُ أَنْ يَكُوْنَ أوْعَى لَهُ مِنْ بَعْضِ مَنْ سَمِعَهُ
Ingatlah,
hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, maka mudah
mudahan yang menyampaikan menjadi lebih faham dari yang mendengarkan
Kaum
muslimin yang mendengarkan khutbah Rasulullah tersebut hendaklah
berusaha memprhatikan, mengamalkan serta mengemban amanat untuk
menyebarkan keseluruh penjuru bumi dan menurunkannaya kepada generasi
selanjutnya, dan menyampaikannya kepada yang tidak mendengar
(mengetahui) karena sangat pentingnya isi wasiat tersebut.
Setelah Rasulullah SAW selesai memberikan khutbahnya, kemudian Allah menurunkan ayat terakhir yaitu Surat Al-Maidah ayat ke-3 :
“Pada
Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian dan telah Aku
cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan telah Aku Ridhoi Islam sebagai agama
kalian”
Ayat terakhir ini telah menjelaskan kepada kita umat Islam bahwa
sungguh Agama Islam ini sudah lengkap, sempurna dan komperhensif yang
mengatur seluruh aturan hidup manusia sekaligus solusi seluruh
permasalahan hidup manusia seperti aturan tentang Akidah, Ibadah,
akhlaq, makanan, pakaian, muamalah (seperti aturan sosial, ekonomi,
pendidikan, politik Dsb). Di samping ajarannya lengkap Islam juga
merupakan satu-satunya Agama yang diridhoi ALLAH, dan barang siapa mencari Diin
(Agama, Ideologi dan Sistem Hidup) selain Islam maka tidak akan di
Ridhoi ALLAH dan ia termasuk orang yang merugi, sebagaimana firman ALLAH :
“Barang
siapa yang mencari Diin (agama, ideologi, aturan & sistem hidup)
selain Islam maka tidak akan diterima dan ia termasuk dalam orang-orang
yang sangat rugi”
Semoga ALLAH memberikan kekuatan kepada kita untuk memegang dan mengemban amanat Islam ini hingga akhir hayat kita. Amiin Ya Robbal ‘Alamiin.
WIRID DAN DZIKIR PILIHAN
(Wirid-wirid dibawah ini bisa dipakai Dzikir pada saat Thowaf, Sa’i dan amalan Haji yang lain)
1 -
سُبْحَانَ اللَّهِ وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ
اللهُ أَكْبَرُ، وَ لاَ حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ
الْعَظِيْمِ
1.
Subhaanallooh walhamdulillah wa laa ilaaha illallohu wallohu akbar wa
laa haula wa laa quwwata illa billahil ‘Alliyyil ‘Adziim
“Maha
Suci Allah dan segala Puji bagi-Nya, dan tidak ada Ilah (yang di
sembah) kecuali Allah dan Allah Maha Besar, dan tidak ada daya serta
kekuatan kecuali bagi Allah”
2 – سُبْحَانَ اللَّهِ وَ بِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيْمِ
2.Subhaanallah wa bihamdihi subhaanallahil ‘Azhiim
“Maha suci Allah dan segala pujian bagiNya, Maha Suci Allah yang Maha Agung”
3 – لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ
3. Laa Ilaaha illallah muhammadur rasulullah
“Tidak ada Ilah (yang disembah dengan benar) melainkan hanya Allah”
4 – يَا حَنَّانُ يَا مَنَّانُ
4. Ya Hannaan Ya Mannaan
“Wahai (Allah) yang Maha Mengasihi dan yang Maha memberi karunia”
5 – أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ
5. Astaghfirullahal ‘Azhiim
“Aku memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung”
6 – حَسْبُنَا اللهِ وَ نِعْمَ الْوَكِيْلِ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرِ
6. Hasbunallooh wa ni’mal Wakiil ni’mal Maula wa ni’man nashiir
“Cukuplah Allah sebagai Pelindungku, dan Allah sebaik-baik Pelindung dan Penolong”
7 – لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِااللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
7. Laa haula wa laa quwwata illa billaahl ‘Aliyyil ‘Azhiim
“Tidak ada daya dan kekuatan kacuali hanya dari Allah”
8 – اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ
8. Allahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaa nabiyyinaa Muhammad wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ‘ajma’iin
“Semoga Sholawat, salam dan barokah terlimpah kepada nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta sahabatnya”
9 – لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٍ لاَ
حَوْلَ وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
9. Laa
Ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah lahul mulku walahul hamdu wa
huwa ‘alaa kulli syain Qodiir laa haulaa wa laa quwwata illa billahi
‘Aliyyil ‘Adziim
“Tidak ada Sesembahan (yang benar) melainkan hanya Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya, sesungguhnya Kekuasaan & Pujian hanya milik-Nya dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali bagi Allah”
10 - أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ
10. Astaghfirulloohallazii laa ilaaha illa Huwal Hayyul Qoyyuum wa atuubu ilaiih
“Aku
mohon ampun kepada Allah yang tidak ada Ilah (yang disembah dengan
benar) kecuali Dia (Allah) yang Hidup dan terus-menerus mengurus
makhluk-Nya, dan aku bertaubat kepada-Nya”
Wasiatnya Nabi di Haji wada
Wasiat Nabi di Haji wada
January 17th, 2014 by Ustadz Abu Fairuz
Hadis
tetang Khutbah Nabi pada haji Wada, adalah hadis yang sangat populer
dan diriwayatkan dengan banyak jalur sahabat. Ada dari jalur Abu
Bakrah,Ibnu Abbas,Ibnu umar, Jabir bin Abdullah,Abu Said,dan lain-lain.
Khutbah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’iy, Ibnu Majah, Ahmad dll dengan beragam versi saling melengkapi satu sama lainnya.
Inilah versi yang mengumpulkan riwayat-riwayat tersebut menjadi satu kesatuan yang akan lebih indah ketika dipadukan:
“أما بعد أيها الناس اسمعوا مني أبين لكم فإني لا أدري لعلى لا ألقاكم بعد عامي هذا في موقفي هذا.
أيها الناس إن دماءكم وأعراضكم حرام عليكم إلى أن تلقوا ربكم كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا – ألا هل بلغت اللهم فاشهد، فمن كانت عنده أمانة فليؤدها إلى من ائتمنه عليها.
وإن ربا الجاهلية موضوع ولكن لكم رؤوس أموالكم لا تظلمون ولا تظلمون وقضى الله أنه لا ربا. وإن أول ربا أبدأ به عمي العباس بن عبد المطلب.
وإن دماء الجاهلية موضوعة، وإن أول دم نبدأ به دم عامر بن ربيعة بن الحارث بن عبد المطلب وإن مآثر الجاهلية موضوعة غير السدانة والسقاية والعمد قود وشبه العمد ما قتل بالعصا والحجر وفيه مائة بعير، فمن زاد فهو من أهل الجاهلية – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
أما بعد أيها الناس إن الشيطان قد يئس أن يعبد في أرضكم هذه، ولكنه قد رضي أن يطاع فيما سوى ذلك مما تحرقون من أعمالكم فاحذروه على دينكم،
أيها الناس إنما النسئ زيادة في الكفر يضل به الذين كفروا يحلونه عاماً ويحرمونه عاماً ليوطئوا عدة ما حرم الله فيحلوا ما حرم الله ويحرموا ما أحل الله. وإن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السماوات والأرض، وإن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهراً في كتاب الله يوم خلق الله السماوات والأرض، منها أربعة حرم ثلاثة متواليات وواحد فرد: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
أما بعد أيها الناس إن لنسائكم عليكم حقاً ولكم عليهن حق. لكم أن لا يواطئن فرشهم غيركم، ولا يدخلن أحداً تكرهونه بيوتكم إلا بإذنكم ولا يأتين بفاحشة، فإن فعلن فإن الله قد أذن لكم أن تعضلوهن وتهجروهن في المضاجع وتضربوهن ضرباً غير مبرح، فإن انتهين وأطعنكم فعليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف، واستوصوا بالنساء خيراً، فإنهن عندكم عوان لا يملكن لأنفسهن شيئاً، وإنكم إنما أخذتموهن بأمانة الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله فاتقوا الله في النساء واستوصوا بهن خيراً – ألا هل بلغت….اللهم فاشهد.
أيها الناس إنما المؤمنون إخوة ولا يحل لامرئ مال لأخيه إلا عن طيب نفس منه – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
فلا ترجعن بعدى كافراً يضرب بعضكم رقاب بعض، فإني قد تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا بعده: كتاب الله وسنة نبيه، ألا هل بلغت … اللهم فاشهد.
أيها الناس إن ربكم واحد وإن أباكم واحد كلكم لآدم وآدم من تراب أكرمكم عند الله اتقاكم، وليس لعربي على عجمي فضل إلا بالتقوى – ألا هل بلغت….اللهم فاشهد قالوا نعم – قال فليبلغ الشاهد الغائب.
أيها الناس إن الله قد قسم لكل وارث نصيبه من الميراث ولا يجوز لوارث وصية، ولا يجوز وصية في أكثر من ثلث، والولد للفراش وللعاهر الحجر. من ادعى إلى غير أبيه أو تولى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه صرف ولا عدل.
Amma ba’du wahai Manusia, dengarkanlah aku, aku akan berikan pada kalian wasiat sebab aku tidak tau boleh jadi tidak dapat lagi bertemu kalian setelah tahun ini di tempat seperti ini.
Page 1 of 3 | Next page

Hadis tetang Khutbah Nabi pada haji Wada, adalah hadis yang sangat populer dan diriwayatkan dengan banyak jalur sahabat. Ada dari jalur Abu Bakrah,Ibnu Abbas,Ibnu umar, Jabir bin Abdullah,Abu Said,dan lain-lain.
Khutbah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’iy, Ibnu Majah, Ahmad dll dengan beragam versi saling melengkapi satu sama lainnya.
Inilah versi yang mengumpulkan riwayat-riwayat tersebut menjadi satu kesatuan yang akan lebih indah ketika dipadukan:
“أما بعد أيها الناس اسمعوا مني أبين لكم فإني لا أدري لعلى لا ألقاكم بعد عامي هذا في موقفي هذا.
أيها الناس إن دماءكم وأعراضكم حرام عليكم إلى أن تلقوا ربكم كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا – ألا هل بلغت اللهم فاشهد، فمن كانت عنده أمانة فليؤدها إلى من ائتمنه عليها.
وإن ربا الجاهلية موضوع ولكن لكم رؤوس أموالكم لا تظلمون ولا تظلمون وقضى الله أنه لا ربا. وإن أول ربا أبدأ به عمي العباس بن عبد المطلب.
وإن دماء الجاهلية موضوعة، وإن أول دم نبدأ به دم عامر بن ربيعة بن الحارث بن عبد المطلب وإن مآثر الجاهلية موضوعة غير السدانة والسقاية والعمد قود وشبه العمد ما قتل بالعصا والحجر وفيه مائة بعير، فمن زاد فهو من أهل الجاهلية – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
أما بعد أيها الناس إن الشيطان قد يئس أن يعبد في أرضكم هذه، ولكنه قد رضي أن يطاع فيما سوى ذلك مما تحرقون من أعمالكم فاحذروه على دينكم،
أيها الناس إنما النسئ زيادة في الكفر يضل به الذين كفروا يحلونه عاماً ويحرمونه عاماً ليوطئوا عدة ما حرم الله فيحلوا ما حرم الله ويحرموا ما أحل الله. وإن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السماوات والأرض، وإن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهراً في كتاب الله يوم خلق الله السماوات والأرض، منها أربعة حرم ثلاثة متواليات وواحد فرد: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
أما بعد أيها الناس إن لنسائكم عليكم حقاً ولكم عليهن حق. لكم أن لا يواطئن فرشهم غيركم، ولا يدخلن أحداً تكرهونه بيوتكم إلا بإذنكم ولا يأتين بفاحشة، فإن فعلن فإن الله قد أذن لكم أن تعضلوهن وتهجروهن في المضاجع وتضربوهن ضرباً غير مبرح، فإن انتهين وأطعنكم فعليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف، واستوصوا بالنساء خيراً، فإنهن عندكم عوان لا يملكن لأنفسهن شيئاً، وإنكم إنما أخذتموهن بأمانة الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله فاتقوا الله في النساء واستوصوا بهن خيراً – ألا هل بلغت….اللهم فاشهد.
أيها الناس إنما المؤمنون إخوة ولا يحل لامرئ مال لأخيه إلا عن طيب نفس منه – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
فلا ترجعن بعدى كافراً يضرب بعضكم رقاب بعض، فإني قد تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا بعده: كتاب الله وسنة نبيه، ألا هل بلغت … اللهم فاشهد.
أيها الناس إن ربكم واحد وإن أباكم واحد كلكم لآدم وآدم من تراب أكرمكم عند الله اتقاكم، وليس لعربي على عجمي فضل إلا بالتقوى – ألا هل بلغت….اللهم فاشهد قالوا نعم – قال فليبلغ الشاهد الغائب.
أيها الناس إن الله قد قسم لكل وارث نصيبه من الميراث ولا يجوز لوارث وصية، ولا يجوز وصية في أكثر من ثلث، والولد للفراش وللعاهر الحجر. من ادعى إلى غير أبيه أو تولى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه صرف ولا عدل.
Amma ba’du wahai Manusia, dengarkanlah aku, aku akan berikan pada kalian wasiat sebab aku tidak tau boleh jadi tidak dapat lagi bertemu kalian setelah tahun ini di tempat seperti ini.
Wahai manusia sesungguhnya hart dan kehormatan kalian haram sesama kalian hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian, seperti haramnya hari ini, pada bulan ini dan di negeri ini-ketahuilah sesunggunya aku telah sampaikan maka saksikanlah, maka barang siapa yang diamanahkan sesuatu hendaklah menyampaikannya kepada pemiliknya.
Dan sesungguhnya Riba Jahiliyya telah dihapuskan tetapi kalian punya hak untuk mengambil modal kalian saja, kalian tidak dizalimi tidak pula menzalimi, karena Allah telah menetapkan tentang haramna riba, dan riba pertama yang kuhapuskan adalah riba Abbas bin Abdul Mutthalib.
Sesungguhnya pertumpahan darah yang terjadi pada masa jahiliyyah telah dihapuskan, dan tuntutan darah pertama yang dihapus adalah darah Amir bin Rabiah bin Harits bin Abdul Mutthalib, dan sesunguhnya segala sesuatu yang diperebutkan di masa jahiliyyah telah dihapuskan kecuali sadanah (menutupi Ka’bah dengan kiswah) dan siqayah (memberi jamuan minuman kepada jamaah haji), dan pembunuhan wajib di qisas, adapun pembunuhan syibhul amdi (menyerupai unsur kesengajaan) yang terbunuh dengan tongkat dan batu diyatnya seratus ekor unta, barang siapa yang menuntut lebih maka dia termasuk ahli jahiliyyah-ketahuilah sesungguhnya aku telah sampaikan maka saksikanlah.
Amma ba’du, wahai manusia, sesungguhnya Syaitan telah berputus asa untuk disembah di negeri kalian ini, akan tetapi dia rela untuk dipatuhi dalam hal lain selain itu dari perakara-perkara yang kalian anggap kecil, maka waspadalah terhadap agama kalian,
Wahai Manusia, sesunggunya menunda-nunda bulan haji Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu
adalah menambah kekafiran. disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah.
Dan sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana yang keadaannya tatkala Allah ciptakan langit dan bumi, dan sesunggunya bilangan bulan disisi Allah dua belas bulan termaktub di kitab Allah pada hari dia ciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram, tiga berurutan dan satu berpisah, yaitu: Zulqo’dah, Zul hijjah, Muharram dan Rajab mudhar antara jumada dan sya’ban- ketahuilah sesungguhnya aku telah sampaikan maka saksikanlah.
Amma ba’du wahai manusia Ketahuilah, sesungguhnya istri-istri kalian memilik hak atas kalian dan kalian memiliki hak atas mereka, hak kalian agar mereka tidak mengijinkan sesorangpun menginjak ranjang kalian selain kalian, dan janganlah mereka memasukkan orang-orang yang kalian benci kecuali dengan izin kalian dan janganlah mereka berbuat keji, jika mereka lakukan maka Allah telah mengizinkan kalian menahan mereka dan memboikot mereka di ranjang-ranjang dan memukul mereka pukulan yang tidak menyakiti, tetapi jika mereka sadar, bertobat dan mematuhi kalian maka hendaklah kalian menafkahi mereka dan memberikan pakaian mereka dengan cara yang ma’ruf, hendaklah kalian mempergauli wanita dengan baik, sesungguhnya mereka bagaikan tawanan yang membantu kalian, tidak memiliki kebijakan apapun untuk diri mereka tanpa sepengetahuan kalian,dan sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah, maka takutlah pada Allah dalam mempergauli wanita , dan pergauilah mereka dengan baik-ketahuilah sesungguhnya aku telah sampaikan maka saksikanlah ya Allah.
Wahai manusia sesungguhnya orang beriman itu bersaudara dan tidak halal harta seseorang mukmin kecuali dengan kerelaannya- ketahuilah sesungguhnya aku telah sampaikan maka saksikanlah ya Allah.
Janganlah kalian kembali setelahku menjadi kafir sebagaian kalian membunuh sebagian lainnya, sesungguhnya aku telah meninggalkan pada kalian sesuatu yang kalian tidak akan tersesat dengannya setelahku, kitab Allah dan sunnah NabiNya, ketahuilah aku telah sampaikan saksikanlah ya Allah.
Wahai manusia sesungguhya rabb kalian adalah satu dan bapak moyang kalian juga satu semua kalian berasal dari Adam dan Adam dari debu, yang paling bertakwa di antara kalian dialah yang paling mulia, dan orang Arab tidak memilik kelebihan dari orang ajam kecuali dengan takwa- , ketahuilah aku telah sampaikan saksikanlah ya Allah. Maka hendaklah yang menedengar menyampaikan kepada yang tidak hadir.
Wahai manusia sesngguhnya Allah telah membagi setiap ahli waris bagiannya dan tidak boleh berwasiat untuk ahli waris, dan tidak pula dibolehkan wasiat lebih dari sepertiga, anak zina itu akan dinasabkan pada ibunya adapun penzina laki-laki tidak memiliki apapun. Barang siapa yang menisbatkan nasab bukan kepada bapaknya atau berwala bukan kepada maulanya maka atasnya laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia dan tidak akan diterima darinya tebusan apapun.
Faedah-faedah yang dapat dipetik dari wasiat diatas:
1. Anjuran berwasiat untuk orang yang ditinggalkan
2. Haramnya riba dan bahayanya
3. Islam datang untuk membatalkan segala sesuatu perkara jahiliyyah yang bertentangan dengan Islam.
4. Menghindari tipu daya syetan, yang menggelincirkan manusia dari hal-hal yang sepele.
5. Orang jahilyyah beragama dengan hawa nafsu bukan dengan dalil.
6. Seruan untuk memuliakan wanita dan memberikan hak-hak nya
7. Seruan kepada wanita untuk memenuhi hak-hak suami.
8. Seruan berpegang teguh dengan kitab dan sunnah agar tidak tersesat.
9. Pentingnya menjalin ukhwah antara sesama kaum muslimin
10. Ancaman agar kaum muslimin tidak berpecah belah
11. Kemulian dengan takwa bukan dengan nasab dan keturunan.
12. Larangan ta assub/fanatik.
Bab 101: Mengucapkan Talbiyah dan Takbir Pada Pagi Hari Nahar Ketika Melempar Jumrah dan Naik dengan Membonceng Sewaktu Pergi
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang tercantum pada nomor 822 di muka.")
Bab 102: Firman Allah, "Bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji) (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi, jika tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu) maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk Mekah)." (al-Baqarah: 196)
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Abbas yang tertera pada nomor 776 di muka.")
Bab 103: Menaiki Unta yang Akan Disembelih. Firman Allah, "Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian daripada syiar Allah. Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya. Maka, sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang-orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta itu dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (al-Hajj: 36-37)
Mujahid berkata, "Disebut al-budn karena gemuknya. Al-Qaani' artinya orang yang meminta, dan 'al-mu'tarr adalah orang yang tidak meminta daging kurban itu, baik ia orang kaya maupun orang miskin. Dan sya'aairullah ialah menyembelih kurban yang besar dan baik, sedang al-'atiiq ialah lehernya."[55] Ada yang mengatakan bahwa kata "wajabat" itu berarti jatuh ke tanah, seperti perkataan "wajabat asy-syamsu"; artinya cahaya matahari itu telah jatuh ke tanah.[56]
832. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah melihat seorang laki-laki menggiring unta, lalu beliau bersabda, "Naikilah." Ia berkata, "Ini unta kurban." Beliau bersabda, "Naikilah." Ia berkata, "Ini unta kurban (wahai Rasulullah 3/191)." Beliau bersabda, "Naikilah, celaka kamu!" (Beliau mengucapkan demikian) pada kali yang ketiga atau kedua. (Maka, saya melihatnya menaikinya dan berjalan bersama Rasulullah, sedang sandalnya diletakkan di leher untanya 2/184)."
833. Dari Anas r.a. seperti itu. (Dan dalarn satu riwayat: Lalu beliau bersabda pada kali yang ketiga atau keempat, "Naiklah, celakalah engkau" atau "siallah engkau!" 3/191).
Bab 104: Orang yang Menggiring Unta Sendiri Untuk Hadyu
834. Ibnu Umar r.a. berkata, "Rasulullah berhaji tamattu' pada waktu haji wada' dengan umrah haji. Beliau membawa binatang hadyu 'kurban' dan menggiringnya dari Dzul Hulaifah. Rasulullah memulai dengan membaca talbiyah untuk umrah kemudian membaca talbiyah untuk berhaji. Maka, orang-orang melakukan tamattu' bersama Nabi dengan umrah ke haji. Sebagian dari manusia ada yang membawa hadyu, dan ia menggiring binatang hadyu itu. Tapi, sebagian dari mereka ada yang tidak membawa hadyu. Ketika Nabi tiba di Mekah, beliau bersabda kepada manusia, 'Barangsiapa di antaramu yang membawa hadyu, maka sesungguhnya tidak halal baginya sesuatu yang diharamkan baginya sampai ia menyelesaikan hajinya. Dan, barangsiapa di antaramu yang tidak membawa hadyu, maka hendaklah ia thawaf di Baitullah dan (sa'i) antara Shafa dan Marwah, bercukur dan bertahalul. Kamudian ia membaca talbiyah untuk haji. Barangsiapa yang tidak rnempunyai binatang hadyu, maka hendaklah ia berpuasa tiga hari dalam haji dan tujuh hari apabila pulang kepada keluarganya.' Ketika beliau tiba di Mekah, beliau melakukan thawaf (qudum). Lebih dahulu beliau menyentuh sudut, kemudian berlari tiga putaran dan berjalan empat putaran. Setelah selesai thawaf keliling Ka'bah, beliau mengerjakan shalat dua rakaat di belakang maqam. Setelah memberi salam, beliau menuju Shafa, lalu melakukan sa'i tujuh kali antara Shafa dan Marwah. Beliau belum halal (bertahalul) sebelum selesai mengerjakan haji dan menyembelih kurban pada hari Nahar dan thawaf ifadhah (yakni thawaf rukun, dilaksanakan setelah kembali dari Arafah) berkeliling Ka'bah. Setelah semuanya itu selesai, barulah beliau halal dari semua yang tadinya haram. Maka, dikerjakanlah seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah itu, oleh siapa saja yang sanggup membayar hadyu, telah menyiapkan dan menghalaunya di antara orang banyak."
835. Aisyah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. pada waktu melakukan haji tamattu' nya dengan umrah ke haji, maka orang-orang melakukan tamattu' bersama beliau seperti itu.
Bab 105: Orang yang Membeli Hadyu dan Jalanan (Di Tanah Halal atau Tanah Suci)
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Ibnu Umar yang akan disebutkan pada '27 AL-HASHR/2 BAB'.")
Bab 106: Orang yang Memberi Tanda Dan Mengalungi Hadyu di Dzul Hulaifah Kemudian Berihram
Nafi' berkata, "Ibnu Umar apabila membeli hadyu dari Madinah, maka ia mengalunginya dan memberi tanda dengan menggores sebelah kiri kelasnya (punuknya) dengan pisau besar, sedang hadyu-nya itu menderum (duduk) dengan wajahnya menghadap ke arah kiblat."[57]
Bab 107: Memintal Tali Untuk Kalung Unta dan Sapi
Bab 108: Memberi Tanda Kepada Unta yang Akan Dijadikan Hadyu
Urwah mengatakan bahwa Miswar r.a. berkata, "Nabi memberi kalung kepada hadyu-nya, kemudian memberinya tanda, sesudah itu beliau ihram untuk umrah."[58]
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Aisyah yang akan disebutkan dalam bab berikutnya ini.")
Bab 110: Orang yang Mengalungi Hadyunya dengan Tangannya Sendiri
836. Amrah binti Abdurrahman mengatakan bahwa Ziad bin Abu Sufyan menulis sepucuk surat kepada Aisyah bahwa Abdullah bin Abbas r.a. berkata, "Barangsiapa yang membawa hadyu, maka haram atasnya apa yang diharamkan kepada orang yang haji sehingga binatang hadyu-nya disembelih." Amrah berkata, "Lalu Aisyah berkata, 'Tidak seperti apa yang dikatakan Ibnu Abbas. Saya memintal kalung-kalung binatang hadyu Rasulullah (dalam satu riwayat: kalung kambing Nabi) dengan bulu yang ada pada saya dengan tangan saya. Kemudian Rasulullah mengalungkannya dengan kedua tangan beliau (dan memberinya tanda 2/182). Lalu, beliau mengirimkannya bersama ayahku ke Baitullah, dan beliau berada di Madinah dalam keadaan halal. Maka, tidaklah haram atas Rasulullah sesuatu yang dihalalkan Allah untuk beliau sehingga binatang hadyu itu disembelih.'" (Dalam satu riwayat: "Beliau membawa hadyu dari Madinah, lalu saya memintal kalung hadyu-nya. Kemudian beliau tidak menjauhi sesuatu yang harus dijauhi oleh orang yang sedang ihram.") (Dan dari jalan Masruq bahwa dia datang kepada Aisyah, lalu berkata kepadanya, "Wahai Ummul Mu'minin! Seseorang mengirim hadyu ke Ka'bah, dan dia duduk di tempatnya saja, dan berpesan agar unta kurbannya dikalungi. Pada hari itu ia tetap berihram sehingga orang-orang bertahalul?" Masruq berkata, "Lalu, saya mendengar tepuk tangan Aisyah dari balik hijab, kemudian berkata, 'Sesungguhnya saya memintal hadyu Rasulullah. Lalu, beliau mengirimkan hadyunya ke Kabah. Maka, tidak lagi haram atas beliau apa yang halal bagi orang-orang lelaki terhadap istrinya, sehingga orang-orang kembali pulang.'" 6/239)
Bab 110: Memberi Kalung Kepada Kambing
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya beberapa bagian dari hadits Aisyah di atas.")
Bab 111: Membuat Tali dari Kapas atau Bulu
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Aisyah di atas.")
Bab 112: Mengalungkan Sandal pada Leher Hadyu
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tercantum pada nomor 832 di muka.")
Bab 113: Pelana untuk Unta Hadyu
Ibnu Umar r.a. tidak merobek pelana kecuali pada tempat kelasa (punuk). Apabila dia menyembelihnya, maka dilepaskannya pelananya karena takut rusak oleh darah. Kemudian dia menyedekahkannya.[59]
837. Ali r.a. berkata, "(Nabi menyerahkan kurban seratus ekor unta lalu 2/186) menyuruh saya (dalam satu riwayat: mengutus saya). Kemudian saya mengurus kurban-kurban tersebut. Lalu, Rasulullah menyuruh saya agar menyedekahkan pelana dan kulit kurban yang telah disembelih. (Dalam riwayat lain: Lalu, beliau menyuruh saya membagi-bagikan dagingnya, lantas saya bagikan. Kemudian menyuruh saya membagi-bagikan pelananya, lalu saya bagikan. Lalu, menyuruh saya membagi-bagikan kulitnya dan saya bagikan. Juga agar saya tidak memberikan sedikitpun sebagai upah penyembelihannya."[60]
Bab 114: Orang yang Membeli Hadyu dari Jalanan dan Mengalunginya dengan Tali
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang disebutkan pada '27-AL-HASHR/2-BAB'.")
Bab 115: Seorang Lelaki yang Menyembelih Sapi Untuk Istrinya Tanpa Perintah Istrinya Itu
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Aisyah yang tercantum pada nomor 178 di muka.")
Bab 116: Menyembelih di Tempat Penyembelihan Milik Nabi di Mina
838. Nafi' mengatakan bahwa Abdullah r.a. biasa menyembelih di tempat penyembelihan. Abdullah berkata (yakni) tempat penyembelihan yang biasa digunakan menyembelih oleh Rasulullah (Dan dalam satu riwayat dari Nafi': Bahwa Ibnu Umar r.a. mengirimkan binatang kurbannya dari Jam'i pada akhir malam hingga dimasukkan ke tempat penyembelihan milik Nabi bersama orang-orang yang sedang menunaikan haji yang di antaranya ada orang merdeka dan ada pula budak).
Bab 117: Menyembelih Unta dalam Keadaan Terikat
839. Ziyad bin Jubair berkata, "Saya melihat Ibnu Umar mendatangi seorang lelaki yang menderumkan untanya dan menyembelihnya. Ia berkata, 'Lepaskanlah pengikatnya dengan berdiri dan terikat kakinya, dengan mengikuti sunnah Muhammad.'"
Bab 118: Menyembelih Unta Sedang Unta Itu Berdiri
Ibnu Umar berkata, "Sunnah Muhammad saw."[61]
Ibnu Abbas berkata, "Yang dimaksud dengan lafal 'shawaaffa' (dalam Al-Qur'an) itu adalah berdiri."[62]
840. Anas berkata, "Nabi shalat zhuhur di Madinah empat rakaat dan shalat ashar di Dzul Hulaifah dua rakaat (yakni diqashar), lalu menginap di Dzul Hulaifah. Setelah tiba waktu pagi (beliau mengerjakan shalat subuh, kemudian 2/186) beliau menaiki kendaraannya. Lalu, membaca tahlil dan tasbih. Setelah berada di tempat yang tinggi Baida', beliau bertalbiyah dengan menggunakan kedua kalimat itu secara bersama-sama (Dalam satu riwayat: Sehingga ketika kendaraannya membawa beliau ke Baida', beliau bertalbiyah untuk umrah dan haji). Ketika beliau memasuki kota Mekah, beliau perintahkan kepada para sahabatnya supaya bertahalul. Nabi menyembelih tujuh ekor unta dengan tangannya sedang unta-unta itu berdiri. Sedangkan, di Madinah beliau menyembelih dua ekor kambing kibas yang bulunya putih bercampur hitam dan besar tanduknya."
Bab 119: Orang yang Menyembelih Itu Tidak Diberi Sesuatu dari Hadyunya Sebagai Upah
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ali yang tercantum pada nomor 837 di muka.")
Bab 120: Disedekahkannya Kulit Hadyu
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ali yang diisyaratkan di atas.")
Bab 121: Disedekahkannya Pelana Unta
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ali di muka.")
Bab 122: Firman Allah dalam Surah al-Hajj. Allah berfirman, "Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat, dan orang-orang yang ruku dan sujud. Berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka, makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). Demikian (perintah Allah). Barangsiapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya." (al-Hajj: 26-30)
Bab 123: Apa yang Dapat dimakan dari Unta Kurban dan Apa Yang Mesti Disedekahkan
Ibnu Umar berkata, "Tidak dimakan bagian dari buruan dan nazar, dan yang selain dari itu boleh dimakan."[63]
Atha' berkata, "Boleh memakan dan memberi makan perbekalan."[64]
841. Jabir bin Abdullah berkata, "Kami tidak makan dari daging unta kami lebih dari hari di Mina. Lalu, Nabi memberi kemurahan kepada kami seraya bersabda, "Makanlah dan berbekallah. Maka, kami makan dan berbekal." Aku (perawi) bertanya kepada Atha', "Apakah dia (Jabir) berkata, "Hingga kami tiba di Madinah?" Dia menjawab, "Tidak."[65] (Dan dalam satu riwayat dari Jabir: "Kami berbekal dengan daging kurban pada zaman nabi ke Madinah." Dan dia berkata tidak hanya sekali, "Daging hadyu 'binatang kurban' 6/239)."
Bab 125: Menyembelih Sebelum Mencukur Rambut
842. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi (dalam satu riwayat: "Nabi ditanya tentang berhari nahar ketika di Mina. Lalu beliau menjawab, 'Tidak mengapa.' Lalu ada laki-laki lain bertanya 2/190), 'Saya thawaf ziyarah (thawaf ifadhah)) sebelum melontar?' (Lalu beliau berisyarat dengan tangan beliau 1/29) seraya bersabda, 'Tidak mengapa.' (Lelaki lain 7/226) bertanya, 'Saya mencukur rambut sebelum menyembelih?' (Beliau berisyarat dengan tangan beliau seraya) bersabda, 'Tidak mengapa.' (Laki-laki lain lagi) berkata, 'Saya menyembelih sebelum melontar?' Beliau bersabda, 'Tidak mengapa.' (Dia bertanya, 'Saya melontar sesudah sore hari?'[66] Beliau bersabda, 'Tidak mengapa.')" Dari jabir dari Nabi bahwa Jabir berkata yang semakna dengan itu.[67]
Bab 125: Orang yang Mengempalkan Rambut Kepalanya Ketika Berihram dan Mencukur
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Hafshah yang tertera pada nomor 775.")
Khutbah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’iy, Ibnu Majah, Ahmad dll dengan beragam versi saling melengkapi satu sama lainnya.
Inilah versi yang mengumpulkan riwayat-riwayat tersebut menjadi satu kesatuan yang akan lebih indah ketika dipadukan:
“أما بعد أيها الناس اسمعوا مني أبين لكم فإني لا أدري لعلى لا ألقاكم بعد عامي هذا في موقفي هذا.
أيها الناس إن دماءكم وأعراضكم حرام عليكم إلى أن تلقوا ربكم كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا – ألا هل بلغت اللهم فاشهد، فمن كانت عنده أمانة فليؤدها إلى من ائتمنه عليها.
وإن ربا الجاهلية موضوع ولكن لكم رؤوس أموالكم لا تظلمون ولا تظلمون وقضى الله أنه لا ربا. وإن أول ربا أبدأ به عمي العباس بن عبد المطلب.
وإن دماء الجاهلية موضوعة، وإن أول دم نبدأ به دم عامر بن ربيعة بن الحارث بن عبد المطلب وإن مآثر الجاهلية موضوعة غير السدانة والسقاية والعمد قود وشبه العمد ما قتل بالعصا والحجر وفيه مائة بعير، فمن زاد فهو من أهل الجاهلية – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
أما بعد أيها الناس إن الشيطان قد يئس أن يعبد في أرضكم هذه، ولكنه قد رضي أن يطاع فيما سوى ذلك مما تحرقون من أعمالكم فاحذروه على دينكم،
أيها الناس إنما النسئ زيادة في الكفر يضل به الذين كفروا يحلونه عاماً ويحرمونه عاماً ليوطئوا عدة ما حرم الله فيحلوا ما حرم الله ويحرموا ما أحل الله. وإن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السماوات والأرض، وإن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهراً في كتاب الله يوم خلق الله السماوات والأرض، منها أربعة حرم ثلاثة متواليات وواحد فرد: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
أما بعد أيها الناس إن لنسائكم عليكم حقاً ولكم عليهن حق. لكم أن لا يواطئن فرشهم غيركم، ولا يدخلن أحداً تكرهونه بيوتكم إلا بإذنكم ولا يأتين بفاحشة، فإن فعلن فإن الله قد أذن لكم أن تعضلوهن وتهجروهن في المضاجع وتضربوهن ضرباً غير مبرح، فإن انتهين وأطعنكم فعليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف، واستوصوا بالنساء خيراً، فإنهن عندكم عوان لا يملكن لأنفسهن شيئاً، وإنكم إنما أخذتموهن بأمانة الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله فاتقوا الله في النساء واستوصوا بهن خيراً – ألا هل بلغت….اللهم فاشهد.
أيها الناس إنما المؤمنون إخوة ولا يحل لامرئ مال لأخيه إلا عن طيب نفس منه – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
فلا ترجعن بعدى كافراً يضرب بعضكم رقاب بعض، فإني قد تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا بعده: كتاب الله وسنة نبيه، ألا هل بلغت … اللهم فاشهد.
أيها الناس إن ربكم واحد وإن أباكم واحد كلكم لآدم وآدم من تراب أكرمكم عند الله اتقاكم، وليس لعربي على عجمي فضل إلا بالتقوى – ألا هل بلغت….اللهم فاشهد قالوا نعم – قال فليبلغ الشاهد الغائب.
أيها الناس إن الله قد قسم لكل وارث نصيبه من الميراث ولا يجوز لوارث وصية، ولا يجوز وصية في أكثر من ثلث، والولد للفراش وللعاهر الحجر. من ادعى إلى غير أبيه أو تولى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه صرف ولا عدل.
Amma ba’du wahai Manusia, dengarkanlah aku, aku akan berikan pada kalian wasiat sebab aku tidak tau boleh jadi tidak dapat lagi bertemu kalian setelah tahun ini di tempat seperti ini.
Page 1 of 3 | Next page
Wasiat Nabi di Haji wada
Hadis tetang Khutbah Nabi pada haji Wada, adalah hadis yang sangat populer dan diriwayatkan dengan banyak jalur sahabat. Ada dari jalur Abu Bakrah,Ibnu Abbas,Ibnu umar, Jabir bin Abdullah,Abu Said,dan lain-lain.
Khutbah ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasa’iy, Ibnu Majah, Ahmad dll dengan beragam versi saling melengkapi satu sama lainnya.
Inilah versi yang mengumpulkan riwayat-riwayat tersebut menjadi satu kesatuan yang akan lebih indah ketika dipadukan:
“أما بعد أيها الناس اسمعوا مني أبين لكم فإني لا أدري لعلى لا ألقاكم بعد عامي هذا في موقفي هذا.
أيها الناس إن دماءكم وأعراضكم حرام عليكم إلى أن تلقوا ربكم كحرمة يومكم هذا في شهركم هذا في بلدكم هذا – ألا هل بلغت اللهم فاشهد، فمن كانت عنده أمانة فليؤدها إلى من ائتمنه عليها.
وإن ربا الجاهلية موضوع ولكن لكم رؤوس أموالكم لا تظلمون ولا تظلمون وقضى الله أنه لا ربا. وإن أول ربا أبدأ به عمي العباس بن عبد المطلب.
وإن دماء الجاهلية موضوعة، وإن أول دم نبدأ به دم عامر بن ربيعة بن الحارث بن عبد المطلب وإن مآثر الجاهلية موضوعة غير السدانة والسقاية والعمد قود وشبه العمد ما قتل بالعصا والحجر وفيه مائة بعير، فمن زاد فهو من أهل الجاهلية – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
أما بعد أيها الناس إن الشيطان قد يئس أن يعبد في أرضكم هذه، ولكنه قد رضي أن يطاع فيما سوى ذلك مما تحرقون من أعمالكم فاحذروه على دينكم،
أيها الناس إنما النسئ زيادة في الكفر يضل به الذين كفروا يحلونه عاماً ويحرمونه عاماً ليوطئوا عدة ما حرم الله فيحلوا ما حرم الله ويحرموا ما أحل الله. وإن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق الله السماوات والأرض، وإن عدة الشهور عند الله اثنا عشر شهراً في كتاب الله يوم خلق الله السماوات والأرض، منها أربعة حرم ثلاثة متواليات وواحد فرد: ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
أما بعد أيها الناس إن لنسائكم عليكم حقاً ولكم عليهن حق. لكم أن لا يواطئن فرشهم غيركم، ولا يدخلن أحداً تكرهونه بيوتكم إلا بإذنكم ولا يأتين بفاحشة، فإن فعلن فإن الله قد أذن لكم أن تعضلوهن وتهجروهن في المضاجع وتضربوهن ضرباً غير مبرح، فإن انتهين وأطعنكم فعليكم رزقهن وكسوتهن بالمعروف، واستوصوا بالنساء خيراً، فإنهن عندكم عوان لا يملكن لأنفسهن شيئاً، وإنكم إنما أخذتموهن بأمانة الله واستحللتم فروجهن بكلمة الله فاتقوا الله في النساء واستوصوا بهن خيراً – ألا هل بلغت….اللهم فاشهد.
أيها الناس إنما المؤمنون إخوة ولا يحل لامرئ مال لأخيه إلا عن طيب نفس منه – ألا هل بلغت اللهم فاشهد.
فلا ترجعن بعدى كافراً يضرب بعضكم رقاب بعض، فإني قد تركت فيكم ما إن أخذتم به لن تضلوا بعده: كتاب الله وسنة نبيه، ألا هل بلغت … اللهم فاشهد.
أيها الناس إن ربكم واحد وإن أباكم واحد كلكم لآدم وآدم من تراب أكرمكم عند الله اتقاكم، وليس لعربي على عجمي فضل إلا بالتقوى – ألا هل بلغت….اللهم فاشهد قالوا نعم – قال فليبلغ الشاهد الغائب.
أيها الناس إن الله قد قسم لكل وارث نصيبه من الميراث ولا يجوز لوارث وصية، ولا يجوز وصية في أكثر من ثلث، والولد للفراش وللعاهر الحجر. من ادعى إلى غير أبيه أو تولى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل منه صرف ولا عدل.
Amma ba’du wahai Manusia, dengarkanlah aku, aku akan berikan pada kalian wasiat sebab aku tidak tau boleh jadi tidak dapat lagi bertemu kalian setelah tahun ini di tempat seperti ini.
Wahai manusia sesungguhnya hart dan kehormatan kalian haram sesama kalian hingga kalian berjumpa dengan Rabb kalian, seperti haramnya hari ini, pada bulan ini dan di negeri ini-ketahuilah sesunggunya aku telah sampaikan maka saksikanlah, maka barang siapa yang diamanahkan sesuatu hendaklah menyampaikannya kepada pemiliknya.
Dan sesungguhnya Riba Jahiliyya telah dihapuskan tetapi kalian punya hak untuk mengambil modal kalian saja, kalian tidak dizalimi tidak pula menzalimi, karena Allah telah menetapkan tentang haramna riba, dan riba pertama yang kuhapuskan adalah riba Abbas bin Abdul Mutthalib.
Sesungguhnya pertumpahan darah yang terjadi pada masa jahiliyyah telah dihapuskan, dan tuntutan darah pertama yang dihapus adalah darah Amir bin Rabiah bin Harits bin Abdul Mutthalib, dan sesunguhnya segala sesuatu yang diperebutkan di masa jahiliyyah telah dihapuskan kecuali sadanah (menutupi Ka’bah dengan kiswah) dan siqayah (memberi jamuan minuman kepada jamaah haji), dan pembunuhan wajib di qisas, adapun pembunuhan syibhul amdi (menyerupai unsur kesengajaan) yang terbunuh dengan tongkat dan batu diyatnya seratus ekor unta, barang siapa yang menuntut lebih maka dia termasuk ahli jahiliyyah-ketahuilah sesungguhnya aku telah sampaikan maka saksikanlah.
Amma ba’du, wahai manusia, sesungguhnya Syaitan telah berputus asa untuk disembah di negeri kalian ini, akan tetapi dia rela untuk dipatuhi dalam hal lain selain itu dari perakara-perkara yang kalian anggap kecil, maka waspadalah terhadap agama kalian,
Wahai Manusia, sesunggunya menunda-nunda bulan haji Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu
adalah menambah kekafiran. disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah.
Dan sesungguhnya zaman telah berputar sebagaimana yang keadaannya tatkala Allah ciptakan langit dan bumi, dan sesunggunya bilangan bulan disisi Allah dua belas bulan termaktub di kitab Allah pada hari dia ciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram, tiga berurutan dan satu berpisah, yaitu: Zulqo’dah, Zul hijjah, Muharram dan Rajab mudhar antara jumada dan sya’ban- ketahuilah sesungguhnya aku telah sampaikan maka saksikanlah.
Amma ba’du wahai manusia Ketahuilah, sesungguhnya istri-istri kalian memilik hak atas kalian dan kalian memiliki hak atas mereka, hak kalian agar mereka tidak mengijinkan sesorangpun menginjak ranjang kalian selain kalian, dan janganlah mereka memasukkan orang-orang yang kalian benci kecuali dengan izin kalian dan janganlah mereka berbuat keji, jika mereka lakukan maka Allah telah mengizinkan kalian menahan mereka dan memboikot mereka di ranjang-ranjang dan memukul mereka pukulan yang tidak menyakiti, tetapi jika mereka sadar, bertobat dan mematuhi kalian maka hendaklah kalian menafkahi mereka dan memberikan pakaian mereka dengan cara yang ma’ruf, hendaklah kalian mempergauli wanita dengan baik, sesungguhnya mereka bagaikan tawanan yang membantu kalian, tidak memiliki kebijakan apapun untuk diri mereka tanpa sepengetahuan kalian,dan sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah, maka takutlah pada Allah dalam mempergauli wanita , dan pergauilah mereka dengan baik-ketahuilah sesungguhnya aku telah sampaikan maka saksikanlah ya Allah.
Wahai manusia sesungguhnya orang beriman itu bersaudara dan tidak halal harta seseorang mukmin kecuali dengan kerelaannya- ketahuilah sesungguhnya aku telah sampaikan maka saksikanlah ya Allah.
Janganlah kalian kembali setelahku menjadi kafir sebagaian kalian membunuh sebagian lainnya, sesungguhnya aku telah meninggalkan pada kalian sesuatu yang kalian tidak akan tersesat dengannya setelahku, kitab Allah dan sunnah NabiNya, ketahuilah aku telah sampaikan saksikanlah ya Allah.
Wahai manusia sesungguhya rabb kalian adalah satu dan bapak moyang kalian juga satu semua kalian berasal dari Adam dan Adam dari debu, yang paling bertakwa di antara kalian dialah yang paling mulia, dan orang Arab tidak memilik kelebihan dari orang ajam kecuali dengan takwa- , ketahuilah aku telah sampaikan saksikanlah ya Allah. Maka hendaklah yang menedengar menyampaikan kepada yang tidak hadir.
Wahai manusia sesngguhnya Allah telah membagi setiap ahli waris bagiannya dan tidak boleh berwasiat untuk ahli waris, dan tidak pula dibolehkan wasiat lebih dari sepertiga, anak zina itu akan dinasabkan pada ibunya adapun penzina laki-laki tidak memiliki apapun. Barang siapa yang menisbatkan nasab bukan kepada bapaknya atau berwala bukan kepada maulanya maka atasnya laknat Allah, Malaikat dan seluruh manusia dan tidak akan diterima darinya tebusan apapun.
Faedah-faedah yang dapat dipetik dari wasiat diatas:
1. Anjuran berwasiat untuk orang yang ditinggalkan
2. Haramnya riba dan bahayanya
3. Islam datang untuk membatalkan segala sesuatu perkara jahiliyyah yang bertentangan dengan Islam.
4. Menghindari tipu daya syetan, yang menggelincirkan manusia dari hal-hal yang sepele.
5. Orang jahilyyah beragama dengan hawa nafsu bukan dengan dalil.
6. Seruan untuk memuliakan wanita dan memberikan hak-hak nya
7. Seruan kepada wanita untuk memenuhi hak-hak suami.
8. Seruan berpegang teguh dengan kitab dan sunnah agar tidak tersesat.
9. Pentingnya menjalin ukhwah antara sesama kaum muslimin
10. Ancaman agar kaum muslimin tidak berpecah belah
11. Kemulian dengan takwa bukan dengan nasab dan keturunan.
12. Larangan ta assub/fanatik.
RINGKASAN SHAHIH BUKHARI : KITAB HAJI (bagian 5)
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang tercantum pada nomor 822 di muka.")
Bab 102: Firman Allah, "Bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji) (wajiblah ia menyembelih) kurban yang mudah didapat. Tetapi, jika tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu) maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk Mekah)." (al-Baqarah: 196)
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Ibnu Abbas yang tertera pada nomor 776 di muka.")
Bab 103: Menaiki Unta yang Akan Disembelih. Firman Allah, "Telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian daripada syiar Allah. Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya. Maka, sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang-orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta itu dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (al-Hajj: 36-37)
Mujahid berkata, "Disebut al-budn karena gemuknya. Al-Qaani' artinya orang yang meminta, dan 'al-mu'tarr adalah orang yang tidak meminta daging kurban itu, baik ia orang kaya maupun orang miskin. Dan sya'aairullah ialah menyembelih kurban yang besar dan baik, sedang al-'atiiq ialah lehernya."[55] Ada yang mengatakan bahwa kata "wajabat" itu berarti jatuh ke tanah, seperti perkataan "wajabat asy-syamsu"; artinya cahaya matahari itu telah jatuh ke tanah.[56]
832. Abu Hurairah r.a. mengatakan bahwa Rasulullah melihat seorang laki-laki menggiring unta, lalu beliau bersabda, "Naikilah." Ia berkata, "Ini unta kurban." Beliau bersabda, "Naikilah." Ia berkata, "Ini unta kurban (wahai Rasulullah 3/191)." Beliau bersabda, "Naikilah, celaka kamu!" (Beliau mengucapkan demikian) pada kali yang ketiga atau kedua. (Maka, saya melihatnya menaikinya dan berjalan bersama Rasulullah, sedang sandalnya diletakkan di leher untanya 2/184)."
833. Dari Anas r.a. seperti itu. (Dan dalarn satu riwayat: Lalu beliau bersabda pada kali yang ketiga atau keempat, "Naiklah, celakalah engkau" atau "siallah engkau!" 3/191).
Bab 104: Orang yang Menggiring Unta Sendiri Untuk Hadyu
834. Ibnu Umar r.a. berkata, "Rasulullah berhaji tamattu' pada waktu haji wada' dengan umrah haji. Beliau membawa binatang hadyu 'kurban' dan menggiringnya dari Dzul Hulaifah. Rasulullah memulai dengan membaca talbiyah untuk umrah kemudian membaca talbiyah untuk berhaji. Maka, orang-orang melakukan tamattu' bersama Nabi dengan umrah ke haji. Sebagian dari manusia ada yang membawa hadyu, dan ia menggiring binatang hadyu itu. Tapi, sebagian dari mereka ada yang tidak membawa hadyu. Ketika Nabi tiba di Mekah, beliau bersabda kepada manusia, 'Barangsiapa di antaramu yang membawa hadyu, maka sesungguhnya tidak halal baginya sesuatu yang diharamkan baginya sampai ia menyelesaikan hajinya. Dan, barangsiapa di antaramu yang tidak membawa hadyu, maka hendaklah ia thawaf di Baitullah dan (sa'i) antara Shafa dan Marwah, bercukur dan bertahalul. Kamudian ia membaca talbiyah untuk haji. Barangsiapa yang tidak rnempunyai binatang hadyu, maka hendaklah ia berpuasa tiga hari dalam haji dan tujuh hari apabila pulang kepada keluarganya.' Ketika beliau tiba di Mekah, beliau melakukan thawaf (qudum). Lebih dahulu beliau menyentuh sudut, kemudian berlari tiga putaran dan berjalan empat putaran. Setelah selesai thawaf keliling Ka'bah, beliau mengerjakan shalat dua rakaat di belakang maqam. Setelah memberi salam, beliau menuju Shafa, lalu melakukan sa'i tujuh kali antara Shafa dan Marwah. Beliau belum halal (bertahalul) sebelum selesai mengerjakan haji dan menyembelih kurban pada hari Nahar dan thawaf ifadhah (yakni thawaf rukun, dilaksanakan setelah kembali dari Arafah) berkeliling Ka'bah. Setelah semuanya itu selesai, barulah beliau halal dari semua yang tadinya haram. Maka, dikerjakanlah seperti apa yang dilakukan oleh Rasulullah itu, oleh siapa saja yang sanggup membayar hadyu, telah menyiapkan dan menghalaunya di antara orang banyak."
835. Aisyah r.a. mengatakan bahwa Nabi saw. pada waktu melakukan haji tamattu' nya dengan umrah ke haji, maka orang-orang melakukan tamattu' bersama beliau seperti itu.
Bab 105: Orang yang Membeli Hadyu dan Jalanan (Di Tanah Halal atau Tanah Suci)
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Ibnu Umar yang akan disebutkan pada '27 AL-HASHR/2 BAB'.")
Bab 106: Orang yang Memberi Tanda Dan Mengalungi Hadyu di Dzul Hulaifah Kemudian Berihram
Nafi' berkata, "Ibnu Umar apabila membeli hadyu dari Madinah, maka ia mengalunginya dan memberi tanda dengan menggores sebelah kiri kelasnya (punuknya) dengan pisau besar, sedang hadyu-nya itu menderum (duduk) dengan wajahnya menghadap ke arah kiblat."[57]
Bab 107: Memintal Tali Untuk Kalung Unta dan Sapi
Bab 108: Memberi Tanda Kepada Unta yang Akan Dijadikan Hadyu
Urwah mengatakan bahwa Miswar r.a. berkata, "Nabi memberi kalung kepada hadyu-nya, kemudian memberinya tanda, sesudah itu beliau ihram untuk umrah."[58]
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Aisyah yang akan disebutkan dalam bab berikutnya ini.")
Bab 110: Orang yang Mengalungi Hadyunya dengan Tangannya Sendiri
836. Amrah binti Abdurrahman mengatakan bahwa Ziad bin Abu Sufyan menulis sepucuk surat kepada Aisyah bahwa Abdullah bin Abbas r.a. berkata, "Barangsiapa yang membawa hadyu, maka haram atasnya apa yang diharamkan kepada orang yang haji sehingga binatang hadyu-nya disembelih." Amrah berkata, "Lalu Aisyah berkata, 'Tidak seperti apa yang dikatakan Ibnu Abbas. Saya memintal kalung-kalung binatang hadyu Rasulullah (dalam satu riwayat: kalung kambing Nabi) dengan bulu yang ada pada saya dengan tangan saya. Kemudian Rasulullah mengalungkannya dengan kedua tangan beliau (dan memberinya tanda 2/182). Lalu, beliau mengirimkannya bersama ayahku ke Baitullah, dan beliau berada di Madinah dalam keadaan halal. Maka, tidaklah haram atas Rasulullah sesuatu yang dihalalkan Allah untuk beliau sehingga binatang hadyu itu disembelih.'" (Dalam satu riwayat: "Beliau membawa hadyu dari Madinah, lalu saya memintal kalung hadyu-nya. Kemudian beliau tidak menjauhi sesuatu yang harus dijauhi oleh orang yang sedang ihram.") (Dan dari jalan Masruq bahwa dia datang kepada Aisyah, lalu berkata kepadanya, "Wahai Ummul Mu'minin! Seseorang mengirim hadyu ke Ka'bah, dan dia duduk di tempatnya saja, dan berpesan agar unta kurbannya dikalungi. Pada hari itu ia tetap berihram sehingga orang-orang bertahalul?" Masruq berkata, "Lalu, saya mendengar tepuk tangan Aisyah dari balik hijab, kemudian berkata, 'Sesungguhnya saya memintal hadyu Rasulullah. Lalu, beliau mengirimkan hadyunya ke Kabah. Maka, tidak lagi haram atas beliau apa yang halal bagi orang-orang lelaki terhadap istrinya, sehingga orang-orang kembali pulang.'" 6/239)
Bab 110: Memberi Kalung Kepada Kambing
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya beberapa bagian dari hadits Aisyah di atas.")
Bab 111: Membuat Tali dari Kapas atau Bulu
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Aisyah di atas.")
Bab 112: Mengalungkan Sandal pada Leher Hadyu
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tercantum pada nomor 832 di muka.")
Bab 113: Pelana untuk Unta Hadyu
Ibnu Umar r.a. tidak merobek pelana kecuali pada tempat kelasa (punuk). Apabila dia menyembelihnya, maka dilepaskannya pelananya karena takut rusak oleh darah. Kemudian dia menyedekahkannya.[59]
837. Ali r.a. berkata, "(Nabi menyerahkan kurban seratus ekor unta lalu 2/186) menyuruh saya (dalam satu riwayat: mengutus saya). Kemudian saya mengurus kurban-kurban tersebut. Lalu, Rasulullah menyuruh saya agar menyedekahkan pelana dan kulit kurban yang telah disembelih. (Dalam riwayat lain: Lalu, beliau menyuruh saya membagi-bagikan dagingnya, lantas saya bagikan. Kemudian menyuruh saya membagi-bagikan pelananya, lalu saya bagikan. Lalu, menyuruh saya membagi-bagikan kulitnya dan saya bagikan. Juga agar saya tidak memberikan sedikitpun sebagai upah penyembelihannya."[60]
Bab 114: Orang yang Membeli Hadyu dari Jalanan dan Mengalunginya dengan Tali
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang disebutkan pada '27-AL-HASHR/2-BAB'.")
Bab 115: Seorang Lelaki yang Menyembelih Sapi Untuk Istrinya Tanpa Perintah Istrinya Itu
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya sebagian dari hadits Aisyah yang tercantum pada nomor 178 di muka.")
Bab 116: Menyembelih di Tempat Penyembelihan Milik Nabi di Mina
838. Nafi' mengatakan bahwa Abdullah r.a. biasa menyembelih di tempat penyembelihan. Abdullah berkata (yakni) tempat penyembelihan yang biasa digunakan menyembelih oleh Rasulullah (Dan dalam satu riwayat dari Nafi': Bahwa Ibnu Umar r.a. mengirimkan binatang kurbannya dari Jam'i pada akhir malam hingga dimasukkan ke tempat penyembelihan milik Nabi bersama orang-orang yang sedang menunaikan haji yang di antaranya ada orang merdeka dan ada pula budak).
Bab 117: Menyembelih Unta dalam Keadaan Terikat
839. Ziyad bin Jubair berkata, "Saya melihat Ibnu Umar mendatangi seorang lelaki yang menderumkan untanya dan menyembelihnya. Ia berkata, 'Lepaskanlah pengikatnya dengan berdiri dan terikat kakinya, dengan mengikuti sunnah Muhammad.'"
Bab 118: Menyembelih Unta Sedang Unta Itu Berdiri
Ibnu Umar berkata, "Sunnah Muhammad saw."[61]
Ibnu Abbas berkata, "Yang dimaksud dengan lafal 'shawaaffa' (dalam Al-Qur'an) itu adalah berdiri."[62]
840. Anas berkata, "Nabi shalat zhuhur di Madinah empat rakaat dan shalat ashar di Dzul Hulaifah dua rakaat (yakni diqashar), lalu menginap di Dzul Hulaifah. Setelah tiba waktu pagi (beliau mengerjakan shalat subuh, kemudian 2/186) beliau menaiki kendaraannya. Lalu, membaca tahlil dan tasbih. Setelah berada di tempat yang tinggi Baida', beliau bertalbiyah dengan menggunakan kedua kalimat itu secara bersama-sama (Dalam satu riwayat: Sehingga ketika kendaraannya membawa beliau ke Baida', beliau bertalbiyah untuk umrah dan haji). Ketika beliau memasuki kota Mekah, beliau perintahkan kepada para sahabatnya supaya bertahalul. Nabi menyembelih tujuh ekor unta dengan tangannya sedang unta-unta itu berdiri. Sedangkan, di Madinah beliau menyembelih dua ekor kambing kibas yang bulunya putih bercampur hitam dan besar tanduknya."
Bab 119: Orang yang Menyembelih Itu Tidak Diberi Sesuatu dari Hadyunya Sebagai Upah
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ali yang tercantum pada nomor 837 di muka.")
Bab 120: Disedekahkannya Kulit Hadyu
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ali yang diisyaratkan di atas.")
Bab 121: Disedekahkannya Pelana Unta
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ali di muka.")
Bab 122: Firman Allah dalam Surah al-Hajj. Allah berfirman, "Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat, dan orang-orang yang ruku dan sujud. Berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka mempersaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka, makanlah sebagian daripadanya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). Demikian (perintah Allah). Barangsiapa yang mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya." (al-Hajj: 26-30)
Bab 123: Apa yang Dapat dimakan dari Unta Kurban dan Apa Yang Mesti Disedekahkan
Ibnu Umar berkata, "Tidak dimakan bagian dari buruan dan nazar, dan yang selain dari itu boleh dimakan."[63]
Atha' berkata, "Boleh memakan dan memberi makan perbekalan."[64]
841. Jabir bin Abdullah berkata, "Kami tidak makan dari daging unta kami lebih dari hari di Mina. Lalu, Nabi memberi kemurahan kepada kami seraya bersabda, "Makanlah dan berbekallah. Maka, kami makan dan berbekal." Aku (perawi) bertanya kepada Atha', "Apakah dia (Jabir) berkata, "Hingga kami tiba di Madinah?" Dia menjawab, "Tidak."[65] (Dan dalam satu riwayat dari Jabir: "Kami berbekal dengan daging kurban pada zaman nabi ke Madinah." Dan dia berkata tidak hanya sekali, "Daging hadyu 'binatang kurban' 6/239)."
Bab 125: Menyembelih Sebelum Mencukur Rambut
842. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi (dalam satu riwayat: "Nabi ditanya tentang berhari nahar ketika di Mina. Lalu beliau menjawab, 'Tidak mengapa.' Lalu ada laki-laki lain bertanya 2/190), 'Saya thawaf ziyarah (thawaf ifadhah)) sebelum melontar?' (Lalu beliau berisyarat dengan tangan beliau 1/29) seraya bersabda, 'Tidak mengapa.' (Lelaki lain 7/226) bertanya, 'Saya mencukur rambut sebelum menyembelih?' (Beliau berisyarat dengan tangan beliau seraya) bersabda, 'Tidak mengapa.' (Laki-laki lain lagi) berkata, 'Saya menyembelih sebelum melontar?' Beliau bersabda, 'Tidak mengapa.' (Dia bertanya, 'Saya melontar sesudah sore hari?'[66] Beliau bersabda, 'Tidak mengapa.')" Dari jabir dari Nabi bahwa Jabir berkata yang semakna dengan itu.[67]
Bab 125: Orang yang Mengempalkan Rambut Kepalanya Ketika Berihram dan Mencukur
(Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Hafshah yang tertera pada nomor 775.")
Idul Adha
Idul ِAdha adalah hari raya kedua dalam Islam yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah setiap tahunnya. Idul Adha terjadi 2 bulan setelah lebaran Idul Fitri yang jatuh tepat pada 1 Syawal. Hari Raya Idul Adha dikenal juga dengan Idul Qurban karena pada lebaran ini umat Islam yang mampu disunnahkan untuk ber-kurban. Ia juga dikenal dengan Lebaran Haji karena bertepatan dengan bulan haji.
DAFTAR ISI
- Definisi Shalat Idul Adha
- Dalil Dasar Idul Adha
- Hukum Shalat Idul Adha
- Tatacara Shalat dan Khutbah Idul Adha
- Niat Shalat Idul Adha
- Tatacara Shalat Idul Adha
- Bacaan Tiap Takbir Shalat Idul Adha
- Tatacara Khutbah Idul Adha
- Teks Bacaan Takbir Idul Adha
- Hukum dan Waktu Membaca Takbir Lebaran Idul Adha
DEFINISI SHALAT IDUL ADHA
Shalat Idul Adha adalah shalat yang diadakan pada Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada 10 Dzulhijjah yang bertepatan dengan ibadah haji di Makkah Al-Mukarramah dan kerena itu disebut juga dengan Hari Raya Haji atau Hari Raya Qurban kerena disunnahkan berkurban bagi yang mampu.
DALIL DASAR IDUL ADHA
- QS Al-Kautsar :2 فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ menurut sebagian ulama tafsir, shalat yang dimaksud adalah shalat hari raya.
- Hadits Bukhari dan Muslim
أُمِّ
عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْها قَالَتْ : أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ
وَالأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ ، فَأَمَّا
الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ
الْمُسْلِمِينَ . قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِحْدَانَا لا يَكُونُ
لَهَا جِلْبَابٌ . قَالَ : لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا .
Artinya: Ummu Atiyyah berkata: Rasulullah menyuruh kami perempuan untuk keluar di Idul Fitri dan Idul Adha. Baik wanita yang baru balig, wanit` sedang haid dan wanita perawan. Sementara orang yang haid dipisahkan dari (tempat) shalat. Agar mereka dapat menyaksikan kebaikan dan doa umat Islam." Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, ada di antara kami yang tidak mempunyai jilbab." Beliau mengatakan, "Sebaiknya saudara perempuannya memberinya jilbab."
- Hadits sahih dalam kitab Sahihul Jamik {أفضل أيام الدنيا أيام العشر
Artinya: Sebaik-baik hari dunia adalah hari kesepuluh
- Hadits sahih menurut Tirmidzi riwayat ahlussunan: {أفضل الأيام عند الله يوم النحر ثم يوم القَرّ
Artinya: Hari paling utama di sisi Allah adalah hari raya Qurban kemudian hari Qarr atau hari kesebelas Dzulhijjah.
HUKUM SHALAT IDUL ADHA
Shalat Idul Adha hukumnya sunnah. Ia merupakan bagian penting dari perayaan hari raya Idul Adha.
TATA CARA SHALAT DAN KHUTBAH IDUL ADHA
Tatacara shalat idul adha tidak berbeda dengan shalat idul fitri sbb:
NIAT SHALAT IDUL ADHA
Niat shalat Idul Adha sebagai imam dan makmum sbb:
Sebagai imam: أصلي سنة عيد الأضحي ركعتين إماما للة تعالي
Ushalli sunna idil adha rak'ataini imaman lillahi ta'ala
Artinya: Niat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat sebagai imam karena Allah.
Sebagai makmum: أصلي سنة عيد الأضحي ركعتين مأموما للة تعالي
Ushalli sunna idil adha rak'ataini makmuman lillahi ta'ala
Artinya: Niat shalat sunnah Idul Fitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah.
TATA CARA SHALAT IDUL ADHA
Shalat sunnah idul adha terdiri dari 2 (dua) rokaat. Rokaat pertama diawali dengan takbirotul ihrom ditambah 7x takbir. Sedangkan rakaat kedua 5 (lima) kali takbir. Lebih detailnya sbb:
Bacaan Rakaat pertama:
(a) Baca takbirotul ihram (takbir permulaan shalat) dengan niat shalat idul adha.
(b) Membaca doa iftitah
(c) Membaca takbir 7 (tujuh) kali (selain takbirotul ihram)
(d) Membaca Al-Fatihah
(d) Membaca surat Al-Quran seperti Al-A'la
Rakaat kedua:
(a) Membaca takbir 5 (lima) kali.
(b) Membaca Al-Fatihah
(c) Membaca surat Al-Quran seperti Al-Ghasyiyah.
Setelah sujud rakaat kedua, diikuti dengan tahiyat (tasyahud) akhir dan diakhiri dengan salam.
Prosesi berikutnya adalah khutbah Idul Fitri, bagian ini khusus untuk khatib Idul Fitri.
BACAAN TIAP TAKBIR SHALAT IDUL ADHA
Setiap takbir saat shalat Idul Fitri baik rakaat pertama atau kedua disunnahkan membaca tasbih yaitu:
سُبْحَانَ اللهْ وَالْحَمْدُ لِلهْ وَلآ اِلَهَ اِلَّا اللهْ وَاللهُ اَكْبَرْ
Artinya: Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah dan Allah Mahabesar.
TATACARA KHUTBAH IDUL ADHA
Khutbah Idul Adha terbagi dua yaitu khutbah pertama dan khutbah kedua. Di antara dua khutbah biasanya dipisah dengan duduk sebentar.
Tata cara khutbah: (a) Membaca takbir 9 (sembilan) kali terus menerus pada khutbah pertama; (b) membaca takbir 5 (lima) kali secara terus menerus (tanpa dipisah) di rakaat kedua selain takbir untuk berdiri.
Adapun selain bacaan takbir, semuanya sama dengan khutbah Jum'at dalam segi rukunnya.
TEKS BACAAN TAKBIR LEBARAN IDUL ADHA
Teks bacaan takbir untuk lebaran Idul Fitri adalah sbb:
الله
أكبر الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله
الحمد الله أكبر كبيراً والحمد لله كثيراً وسبحان الله بكرة وأصيلاً، لا
إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده
HUKUM DAN WAKTU SUNNAH MEMBACA TAKBIR LEBARAN IDUL ADHA
Tabir yang dibaca saat hari raya Idul Adha dan hari tasyriq ada 2 (dua) macam yaitu takbir mutlak/mursal dan takbir muqoyyad. Takbir mutlak/mursal disunnahkan dibaca baik pada hari raya Idul Adha maupun Idul Fitri. Sedangkan takbir muqayyad khusus dibaca pada Idul Adha saja.
Takbir mursal/mutlak adalah takbir yang membacanya tidak terika oleh waktu atau tempat. Ia boleh dibaca di rumah, masjid, jalan, siang dan malam, dll.
Sedangkan tabir muqoyyad adalah takbir yang dibaca sebelum atau sesudah shalat.
Waktu sunnah membaca takbir muqayyad adalah sejak hari Arafah tanggal 9 Dzulhijjah sampai waktu Ashar dari hari tasyriq pada tanggal 13 Dzulhijjah.
Waktu sunnah membaca takbir muqayyad yang disyariatkan adalah sebagai berikut:
a) Sebelum shalat idul adha
b) Sebelum shalat wajib 5 waktu baik yang tepat waktu (ada') atau qadha.
c) Sebelum shalat sunnah rawatib,
d) Sebelum shalat sunnah mutlak,
e) Sebelum shalat jenazah.
-------------
REFERENSI
- Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari Syarah Sahih Bukhari
- Ibnu Syaraf An-Nawawi dalam Al-Majmuk Syarah Muhadzdzab
- Subulussalam
- Al Ghazi dalam Fathul Qorib Al-Mujib.
Artikel Bulan Ini
Langganan:
Postingan (Atom)